Perjalanan Menuju Pernikahan yang Menyayat Hati
Aku mungkin akan menghapus ini nanti demi privasi. Aku menjalin hubungan dengan seorang pria yang berdinas di militer dan mandiri. Kami berdua punya karier dan saling memahami dengan baik. Dari awal, aku sudah jelas kalau aku cuma mau menikah. Dia setuju dan bilang perasaannya sama. Awalnya, aku nggak tahu soal adat keluarganya. Di keluarganya, mereka cuma menikah dengan sepupu atau kerabat dekat. Dia bohong dan meyakinkanku nggak akan ada masalah. Aku percaya padanya. Aku cerita ke orang tuaku tentang dia, dan mereka menerima, bilang kami tinggal nunggu lamaran. Aku lega banget dapat dukungan mereka. Dia mulai coba meyakinkan keluarganya, tapi reaksi mereka keras. Ayahnya berhenti ngomong sama dia, mengkritik kalau aku bukan dokter dan menolak melanjutkan lamaran. Aku sempat kontak sama kakak perempuannya-awalnya dia kelihatan ramah dan bahkan ngajak aku main tiba-tiba, yang nggak aku terima. Ibunya telepon ibuku, tapi terus menghindari topik pernikahan. Ibuku dengan jelas bilang, “Tolong kirim lamaran; kami nunggu kalian.” Awalnya, dia janji bakal melunakkan hati mereka, bilang mimpinya adalah menikahiku dan dia mau ngelakuin apa aja. Dia ngasih banyak banget janji sampai aku jadi buta. Semua ini bikin kami sering bertengkar, dan aku merasa nggak enak karena ayahnya terus nyaranin jodoh lain, bikin aku kelihatan manja karena perbedaan latar belakang kami. Aku abaikan semua itu, percaya kami bakal bersama. Dia nggak terlalu menjalankan Islam-jarang salat dan merokok. Aku bilang aku nggak bisa terima itu. Dia berhenti merokok dan bahkan mulai salat lima waktu. Aku sendiri nggak sempurna alimnya, tapi aku selalu menjalankan agamaku. Tetap aja, aku tergelincir parah dalam hubungan ini, berharap ini bakal jadi pernikahan yang halal. Kami LDR, ketemu sesekali. Dulu dia hormatin batasan dan nggak menyentuhku, dan aku pastikan itu. Lalu suatu hari, dia mulai sentuhan intim. Awalnya aku benci dan bilang nggak akan terulang, tapi jadi siklus, dan aku kebawa dalam momen-momen itu. Kami nggak pernah sampai hubungan seksual penuh, tapi ada keintiman fisik. Aku selalu merasa malu dan minta ampun (tobat) tiap kali. Aku desak dia minta ampunan Allah juga, peringatkan nggak akan ada berkah di pernikahan kami. Dia anggap enteng, bilang itu urusan pribadi kami dan dia tahu apa yang dia lakukan, bikin aku jijik. Aku fokus sama tobatku sendiri. Kami sering bertengkar. Kakaknya blokir aku, dan keluarganya suruh dia jauhi aku. Tapi dia bilang ke ibuku dan aku kalau dia kerja keras meyakinkan ayahnya. Aku percaya dan pengen bikin hubungan ini halal secepatnya. Aku cinta banget sama dia dan terikat emosional. Aku bayangin masa depan kami dan berdoa terus, bahkan salat tahajud dan istikharah, minta Allah mudahkan jalan kami. Keluarganya terus nolak kami, bikin makin sering bertengkar. Setelah pertengkaran besar, orang tuaku tahu. Lihat aku nangis karena dia, mereka mukul dan nyiksa aku secara emosional. Drama banget. Aku dibawa ke terapis, yang bilang orang tuanya nggak akan pernah setuju. Tapi aku percaya Allah, terus berdoa, dan pas dia balik minta maaf, aku kasih dia batas waktu tiga bulan buat selesaikan masalah. Selama itu, aku benar-benar tobat dari dosa-dosaku dan pasang batasan sama dia. Dia nggak suka batasan itu dan manipulasi aku secara emosional. Baru sebulan, dia mulai bertengkar, bilang aku nggak hormatin dia, dan ninggalin aku-ngingkari semua janjinya. Aku breakdown parah, masuk rumah sakit, dan dikasih obat. Aku bahkan mohon sama dia, demi Allah, buat selamatkan hubungan kami, tapi dia nolak dan bilang dia nggak mau lagi nikahin aku. Aku ngerasa dipakai dan patah hati, dan aku masih menderita sampai sekarang. Sekarang batas waktu tiga bulannya udah lewat, aku ngerasa down banget dan bahkan pengen bunuh diri, minta Allah cabut nyawaku. Kesehatan mentalku hancur, orang tuaku sangat khawatir, dan kepercayaanku rusak. Aku rasa aku nggak bisa lagi percaya sama pria. Aku curahkan seluruh jiwaku ke hubungan ini, berharap jadi halal, tapi aku merasa jijik sama kenangan kami dan dosa-dosaku.