Saat perjuangan terasa tak berujung: Memaknai 'bersama kesulitan ada kemudahan'
Assalamu alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh. Aku menulis dari tempat yang sangat berat, bukan untuk mempertanyakan iman kita, tapi karena aku sungguh perlu memahami. Bertahun-tahun aku bergulat dengan depresi dan kecemasan yang enggak kunjung reda, meski aku udah coba berbagai pengobatan, rutin berdoa, dan berusaha untuk sabar. Hidup dengan beban mental ini memengaruhi segala hal-cara aku memandang diri sendiri, hubungan dengan keluarga, sampai ibadah dan kemampuanku untuk bertahan mengharap. Ayat itu terus terngiang: "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan." Aku mau percaya dengan sepenuh hati, tapi apa artinya bagi mereka yang kesulitannya rasanya seumur hidup? Di mana kemudahan itu ketika seseorang menderita puluhan tahun padahal udah melakukan semua yang 'benar'-shalat, minta tolong, coba bersabar? Di mana rahmat-Nya ketika rasa sakit ini enggak cuma menimpaku, tapi juga berimbas ke pasangan, anak, dan orang-orang tersayang? Dan pikiranku makin berat saat aku memikirkan orang-orang yang menghadapi perang, kelaparan, perpindahan-mereka yang enggak punya keamanan dasar, makanan, atau tempat tinggal. Di mana kemudahan mereka di dunia ini? Apakah doa bisa mengubah keadaan yang tampak begitu buntu? Aku menanyakan ini bukan untuk meragukan Al-Qur'an. Aku coba menyambungkan janji indah itu dengan kenyataan bahwa ada orang yang hidup dan mati dalam penderitaan yang mengerikan. Bagaimana kita memahami 'kemudahan setelah kesulitan' kalau kemudahan itu mungkin enggak tampak dalam hidup ini? Apa mungkin itu dimaksudkan untuk akhirat saja? Atau kekuatan batin? Atau momen-momen kecil kelegaan di tengah penderitaan yang lebih besar? Dan gimana kalau penyakit mental membuat bahkan kelegaan kecil itu pun sulit dirasakan? Bagaimana kita menjaga iman, harapan, dan tawakal kepada Allah ketika kedamaian rasanya sama sekali enggak terjangkau? Aku akan sangat berterima kasih untuk tanggapan yang baik dan penuh perhatian-khususnya dari saudara atau saudari yang pernah mengalami tantangan kesehatan mental yang berat, duka, trauma, atau penderitaan jangka panjang, atau mereka yang punya ilmu tafsir dan ajaran Islam. Jazakum Allahu khayran.