Berjuang dengan Ayah yang Keras: Mencari Panduan Islam
Assalamu alaikum. Aku punya begitu banyak kebencian di hati ini terhadap ayahku. Dia kejam padaku dalam banyak hal-lewat kata-katanya, tindakannya, bahkan secara fisik. Tepat sebelum Idul Fitri kemarin, dia mengusirku dari rumah tanpa uang atau ponsel, hanya karena aku menggunakan ponselku untuk mencatat beberapa data. Itu alasannya. Dia mulai memukuliku gara-gara itu karena tenggatnya besok. Aku coba berunding dengan dia, tapi dia terus memukuliku. Ketika akhirnya aku melawan, dia mengusirku dan bilang aku bukan anaknya lagi. Aku menghabiskan malam itu sendirian, lapar, tanpa tujuan. Entah bagaimana aku berhasil sampai ke asrama kampusku, yang jaraknya 9 jam perjalanan. Sejak itu, rasa tidak sukaku berubah jadi kebencian mendalam. Dia benar-benar berhenti menafkahiku; ibuku yang mengurus semuanya sekarang. Awalnya, dia tidak mencoba mengontrolku selama beberapa bulan, tapi sekarang dia kembali mengatur setiap aspek hidupku sambil tetap tidak mendukungku secara finansial, padahal penghasilannya bagus. Dia memaksaku keluar dari kuliah dan beralih ke kelas online. Kalau aku berani mengutarakan pendapat atau meminta sesuatu, dia memukuliku. Saat aku mengunci kamar biar merasa aman, dia mendobrak pintunya dan memukuliku. Jadi karena takut, aku menuruti dia meski itu bertentangan dengan keinginanku sendiri. Aku nggak diizinkan ngapa-ngapain-bahkan keluar bareng teman atau ke gym pun nggak. Aku udah olahraga di rumah selama 6 tahun, tapi itu udah nggak cukup lagi, jadi aku pikir aku bakal ikut gym. Tapi dia bilang perempuan itu tempatnya di rumah, masak dan ngurus pekerjaan rumah. Dia nggak mengizinkan aku belajar nyetir atau bikin SIM. Dan dia ngaku sebagai Muslim yang baik yang mengikuti Nabi dan Allah, pakai agama buat membenarkan segalanya. Aku nggak tahu apakah Islam membiarkan penindasan kayak gini. Aku nggak bisa bicara tanpa dipukul, jadi aku nggak punya suara. Ibuku juga mengalami kekerasan darinya, jadi dia diam saja juga. Sama siapa aku bisa bicara? Apa yang harus kulakukan? Aku terus berdoa semoga Allah melunakkan hatinya, tapi malah makin parah. Aku merasa benar-benar nggak berdaya, ditinggalkan, dan terkekang. Apakah aku berdosa karena merasa seperti ini? Apa aku orang yang jahat?