Krisis Sanad di Era AI: Informasi Melimpah, Otoritas Ilmu Terancam
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengingatkan bahwa kemajuan kecerdasan buatan (AI) mengancam tradisi sanad keilmuan Islam yang menjadi fondasi peradaban. Dalam orasi ilmiah di Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang Selatan, ia menekankan bahwa AI tidak memiliki sanad, guru, atau tanggung jawab moral, sehingga tidak dapat menggantikan peran ulama dan tradisi talaqqi.
Muchlis mengajak generasi muda menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan ilmu dan moralitas, mencontoh semangat ulama terdahulu seperti Imam al-Bukhari yang rela menempuh perjalanan ribuan kilometer demi verifikasi hadis. Ia menegaskan, peradaban Islam lahir dari penghormatan terhadap ilmu, bukan dari kemudahan instan.
Di era digital, pesantren dinilai tetap relevan sebagai institusi yang menjaga keseimbangan antara ilmu, karakter, dan spiritualitas. Muchlis berpesan agar generasi Qur’ani memadukan kemurnian wahyu dengan kecanggihan teknologi untuk membangun peradaban yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
https://mozaik.inilah.com/ibra