Aku baru saja gagal ujian board dan imanku goyah
Assalamu alaykum semuanya. Aku baru saja mengikuti ujian board besar selama 10 jam dan baru tahu kalau aku gagal lolos hanya selisih 3 nilai. Sejak itu aku jadi nggak kayak diriku sendiri-yang pengen kulakukan cuma diam di tempat tidur. Aku mempertanyakan segalanya dalam hidupku sekarang. Nggak tahu kenapa, tapi aku kesulitan untuk sholat, dan sudah begini sejak setelah ujian. Aku benar-benar lelah secara mental. Aku bangun untuk tahajjud dan berdoa untuk hasil ujianku sebelum dan sesudahnya. Aku banyak banget berdoa. Aku meninggalkan ruangan ujian dengan rasa cukup percaya diri dan terus bilang ke diriku sendiri inshaAllah aku lulus. Ini pertama kalinya aku gagal dalam ujian yang benar-benar kupelajari (aku sudah pernah ikut ujian board lain sebelumnya). Aku punya pikiran-pikiran negatif tentang doa dan takdir dan segalanya, astaghfirullah. Ayahku belum tahu, dan aku takut banget untuk memberitahunya. Aku akan mulai belajar lagi untuk mengulang ujiannya, tapi aku merasa sangat putus asa. Aku dalam kondisi yang buruk banget dan banyak mempertanyakan keimananku. Aku berdoa untuk ini di bulan Ramadan dan di Arafah. Tolong, siapa pun bantu aku. Dadaku terasa sesak, dan aku merasa benar-benar nggak enak. Aku tahu ini bukan akhir dunia. Aku merasa seperti orang gagal di depan orang tuaku, terutama ayahku. Dia memaksaku untuk jadi dokter, dan dia sangat keras soal pendidikan-dia seorang narsis yang suka membentak, menghina, dan menakuti orang. Dia sudah menganggapku gagal karena aku menunda kuliahku dua tahun terakhir untuk istirahat mental dan menyelesaikan empat ujian boardku yang lain. Dia begitu serius soal pendidikan sampai-sampai dia nggak mengizinkanku menikah sebelum aku jadi dokter. Kalau dia tahu, dia akan menghinaku begitu rupa sampai aku nggak bisa belajar dan mengulang ujiannya. Malam sebelum ujian ini, dia menghinaku di depan ibuku, bilang ke ibuku kalau aku nggak ngapa-ngapain dalam dua tahun terakhir dibanding orang lain yang sudah di jalur jadi dokter. Dia nggak peduli kalau tujuan hidup adalah untuk melayani Allah. Dia seorang pebisnis yang cuma peduli punya anak-anak sukses yang berpenghasilan banyak, karena dia berasal dari nol dan membangun dirinya sendiri. Dia juga pamer soal anak-anaknya ke orang lain. Dia nggak akan pernah ngerti meskipun aku coba jelaskan-dia nggak mau dengar alasan. Ada saran? JazakAllah khair. Aku tahu aku perlu menghitung nikmatku. Kekhawatiranku nggak ada apa-apanya dibanding orang lain. Cuma reaksi ayahku yang bikin. Tolong doakan aku.