saudari
Diterjemahkan otomatis

Bergulat dengan iman dan perasaanku

Assalamu alaikum. Aku tahu ini kedengarannya buruk, tapi aku perlu meluapkannya. Beberapa bulan lalu aku jauh lebih taat, bersemangat berpakaian sopan dan segalanya, tapi sekarang malah bikin aku jijik. Sekitar satu setengah tahun lalu aku berhenti dengerin musik, tapi sekarang aku malah mainin beberapa lagu dan aku merasa celaka. Aku takut banget sama ide pakai jilbab, dan lebih menyakitkan lagi karena banyak cewek seusiaku udah pakai. Seorang temanku terus-terusan bilang gimana dia nggak bakal ninggalin kesopanannya gara-gara panas, sambil ngeliatin aku. Aku pengen banget pakai atasan lucu, rok, dan gaun, dan hati ini hancur karena tahu mungkin nggak bakal pernah bisa. Kebanyakan temenku Muslim dan pakai jilbab; ada yang bahkan hindarin celana demi kesopanan. Waktu aku coba pakai jilbab pas Ramadan, mereka dorong aku buat terus pakai, bilang aku "keliatan lebih cantik." Aku diam-diam bentrok sama orang tuaku juga-mereka nggak ngerti kenapa aku ngidamin baju-baju tertentu pas kami belanja, dan mereka peringatin aku buat takut sama Allah dan api neraka. Ini bukan soal panasnya; aku selalu kedinginan, tapi aku cuma pengen ngerasa cantik. Setiap tahun pilihanku makin dikit, dan rasanya sesak banget. Aku bahkan nggak bisa ngejustifikasi perasaanku karena semuanya haram. Aku benci norma-norma budaya yang terikat sama Islam, dan aku nggak tahan mikirin nikah sama orang dari latar belakangku-Arab atau Kurdi-atau jujur aja, sama siapa pun. Dengerin cerita-cerita nafsu dari berbagai komunitas bikin perutku mual. Aku benci sikap anti-feminis dan gimana sebagian lelaki Muslim sok jantan; rasanya mengontrol, kayak mereka cuma mau wanita buat masak dan hasrat mereka sendiri. Aku belum sentuh Al-Quran dengan benar sejak Ramadan, dan aku ngerasa buruk banget soal itu, tapi aku nggak bisa motivasi diri buat berubah. Dulu imanku kuat banget, dan sekarang aku hampir nggak bisa jaga shalatku tanpa ada yang bisa diajak ngobrol. Pikiran pakai jilbab setahun lagi bikin aku takut-bayangin orang-orang ngarepin aku diem dan tertunduk karena perempuan nggak boleh vokal, rasanya aku pengen teriak. Aku nggak punya siapa-siapa buat berbagi ini, dan bikin aku pengen kabur aja. Aku benci dunia ini, semua karena aku bisa jadi jauh lebih hebat kalau aku nggak terkekang begini. Aku nggak mau ngerasa kayak gini; aku harap bisa terima jilbab dan abaya dengan senang hati, tapi jujur, aku benci banget. Menakutkan benci jalan yang justru seharusnya bawa ke surga. Maaf ini acak-acakan-biasanya aku lebih rapi ngomong, tapi aku nggak tahu mulai atau akhirin dari mana. Semuanya sakit, dan kayaknya rasa sakit ini nggak ada ujungnya. Dan aku bahkan nggak bisa akhiri kalau aku mau, karena itu juga haram.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, aku benar-benar paham perasaanmu. Tekanan itu nyata, dan wajar banget kalau lagi berjuang. Semoga Allah mudahkan hatimu. Jalani saja satu sholat demi satu sholat.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku pernah ada di posisi itu. Kadang beban budaya bikin semuanya jadi sepuluh kali lipat lebih susah. Coba deh pisahin Islam dari kultur, itu ngebantu aku sedikit.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar