Kesulitan Membimbing Saudara Mualaf Muda Menjauh dari Hubungan yang Berisiko
As-salamu alaykum, saudara-saudara sekalian. Aku bagian dari grup online kecil di mana kami mendukung seorang saudara muda yang masuk Islam beberapa bulan lalu. Usianya sekitar 14 tahun, masih belajar, tapi alhamdulillah dia sudah banyak kemajuan: dia meninggalkan beberapa kebiasaan buruk, menghapus aplikasi musik, mulai mendengarkan terjemahan Al-Qur'an, dan lebih rajin dalam ibadahnya. Belakangan, dia dekat dengan seorang gadis muslim secara offline. Dia mulai bertanya tentang hubungan, jadi kami jelaskan bahwa pacaran itu nggak dibolehkan dalam Islam, dan semuanya harus mengikuti aturan Islam dengan melibatkan keluarga. Yang bikin aku khawatir, gadis ini terang-terangan nggak menjalankan agama. Dia nggak salat atau puasa, dan bilang nggak tertarik untuk mulai sekarang. Saat diingatkan soal kematian dan tobat, dia mengabaikannya, bilang masih muda dan mau bertobat nanti aja. Dia juga mengidentifikasi diri sebagai panseksual. Kami jelaskan bahwa perasaan saja bukan dosa, tapi dia mengakui pernah punya hubungan sesama jenis di masa lalu, nggak menganggapnya salah, dan akan mengulanginya kalau dia single. Aku nggak mengkafirkan dia atau mengorek-ngorek dosanya. Yang jadi masalah, dia nggak cuma berjuang-dia terang-terangan menolak tobat dan nggak mau mengakui bahwa beberapa perbuatan itu salah dalam Islam. Sejak dekat dengannya, mualaf muda ini jadi nggak jelas dan defensif soal batasan-batasan Islam. Misalnya, sekarang dia bilang kita harus 'netral' soal hal-hal ini, tanpa menjelaskan apakah maksudnya netral secara sosial atau netral secara agama. Dia juga mulai berpendapat bahwa menunda tobat bisa dikejar nanti, dan bahwa orang non-muslim yang baik bisa masuk surga, meskipun kami sudah jelaskan bahwa iman kepada Allah itu penting dan mengutip ayat-ayat terkait. Dia masih bersembunyi di balik 'Allah yang paling tahu.' Aku khawatir agamanya bisa terganggu karena ikatan emosional-di usianya, berpikir kritis itu sulit di zaman sekarang. Gimana cara kami menasihatinya tanpa membuatnya defensif atau malah mendorongnya ke gadis itu? Jazakum Allahu khayran.