Ironinya kaum ateis berbalik menentang AI setelah berharap itu akan meruntuhkan iman
Assalamu'alaikum. Saya ingat sebelum pandemi, banyak diskusi online yang bertanya apakah robot harus dapat hak asasi manusia kalau mereka benar-benar bertindak seperti punya kesadaran. Kebanyakan orang bilang iya, mungkin AI dengan kesadaran semacam itu layak mendapat perlindungan yang sama. Saya nggak bisa menghilangkan perasaan bahwa di balik pendapat itu ada harapan: kalau AI bisa meniru kesadaran manusia, itu mungkin bisa memukul agama-atau setidaknya melemahkan argumen tentang jiwa dan keunikan manusia. Sekarang, pasca-pandemi, AI sudah maju banget sampai bisa bikin gambar, video, dan suara yang super realistis. Bisa menghasilkan seni dan animasi, meski masih ada cacatnya. Ini udah bikin banyak PHK di bidang kreatif. Tiba-tiba, banyak kaum liberal berubah sikap soal AI. Mungkin mereka nggak nyangka bakal kena industri yang mereka kuasai-seni, musik, puisi-secepat ini. Mereka jadi khawatir banget sampai lihat AI generatif di mana-mana padahal nggak ada, kadang malah saling serang satu sama lain. Ini ngingetin saya sama kepanikan moral di masa lalu. Sebagai seniman Muslim, saya nggak suka fitnah dan kemunduran kreatif yang ditimbulkan. Tapi sebagian diri saya merasa agak lega aneh lihat hal yang sempat diharapkan bisa mendiskreditkan iman sekarang malah bikin mereka stres. Catatan buat teman-teman Muslim: kita harus hati-hati dengan AI generatif untuk penggunaan kreatif. Ini bisa dengan cepat menghasilkan klip pengawasan palsu atau foto ponsel, meniru suara, dan menyebarkan tuduhan palsu, fitnah, atau penipuan. Dulu editing tingkat tinggi juga ada, tapi butuh keterampilan dan waktu yang besar-sekarang, siapa pun bisa melakukannya dengan cepat. Aneh juga kalau ada yang bilang AI ini halal tapi daging hasil laboratorium nggak.