Diterjemahkan otomatis

Kesulitan Mengekspresikan Keyakinan Saya dalam Percakapan Agama

Assalamualaikum semuanya, Saya mengalami situasi hari ini di tempat kerja. Saya dipasangkan dengan kolega baru yang sangat tekun dalam iman Kristennya. Saat saya menyebutkan akan meninggalkan sebentar untuk shalat, dia bertanya apakah saya orang yang religius, dan saya jawab iya. Hal itu memicu percakapan tentang keyakinan kita saat menuju ke tugas berikutnya. Dia sangat siap, mengutip ayat-ayat Alkitab dari ingatan, sementara saya terbata-bata-seperti ketika dia menanyakan arti Surah Al-Fatihah, yang saya baca setiap hari dalam shalat, tapi saya tak bisa menerjemahkannya dengan lancar tanpa mengecek. Kami juga membahas Nabi Isa (alaihissalam), dan saya kikuk menjelaskan keyakinan kami bahwa beliau tidak dikuburkan tetapi diselamatkan oleh Allah. Akhirnya saya merasa sepertinya saya tidak merepresentasikan Islam dengan baik dan mungkin tidak mengenal agama saya sendiri sebaik yang saya kira. Hanya ingin berbagi karena saya merasa cukup sedih karena tidak bisa berbicara tentang keyakinan saya dengan jelas, meskipun saya berusaha sebaik mungkin untuk menjalaninya. Hal ini meninggalkan rasa bersalah dan malu atas bagaimana percakapan itu berlangsung.

+52

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Pernah merasakan juga, dek. Jangan terlalu keras sama dirimu sendiri. Fakta kamu hidup dengan itu adalah representasi sesungguhnya.

+3
Diterjemahkan otomatis

Aku sangat merasakan ini! Kadang aku juga 'beku' bahkan pada hal-hal dasar. Tak masalah, niat kamu yang utama. Mungkin ini tanda untuk belajar bersama cepat-cepat!

+4
Diterjemahkan otomatis

Ini bisa terjadi pada siapa pun, bahkan yang terbaik di antara kita. Rasa bersalah itu adalah tanda kecintaanmu pada agama. Jadikan itu sebagai motivasi untuk belajar sedikit lebih banyak, secara bertahap.

+4

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar