Apakah wajar merasa kesal terhadap suamiku, dan apakah itu membuatku jadi Muslimah yang buruk?
Assalamu alaikum, saudari-saudariku. Kadang suamiku bilang hal-hal yang menyakitkan dan tidak menghormatiku, dan aku merasa kesal yang dalam. Aku khawatir apakah ini membuatku jadi istri yang buruk atau Muslimah yang buruk. Misalnya, soal membesarkan anak kami, aku yang tanggung semua tanggung jawab. Aku suka jadi ibu dan mengurus anakku sendiri, meskipun di budaya kami banyak yang pakai pembantu. Aku juga pengen punya karier sendiri dan udah berjuang buat nyelesein gelar pascasarjana karena aku dahuluin mertua dan anak. Aku berharap suamiku bisa lebih bantu, biar aku tahu anak kami dibesarkan sesuai keinginan kami berdua, bahkan pas aku lagi pergi. Aku pikir itu juga bisa bikin dia lebih dekat sama anak kami. Tapi dia udah setahun ini jarak jauh, dan bahkan sebelumnya, dia nggak bisa bagi waktu antara kerja dan keluarga dengan baik. Itu nggak berubah. Keluarganya bikin proses menyusui dan nyapih jadi susah banget. Mereka dorong susu formula, mempermalukanku karena nggak ngasih botol biar mereka bisa bawa bayinya ke mana-mana. Itu traumatis, dan suamiku nggak sepenuhnya ngerti rasa sakitku, bahkan bertahun-tahun kemudian. Kakak iparku suka pake layar buat bikin anakku makan, bahkan kalo bayinya muntah, dan ibu mertuaku nggak seneng sama seberapa sering aku nyusuin bayinya, jadi dia ambil alih sampe acara nikahan. Aku udah nyoba ngurangin waktu layar pas makan, tapi pas aku kerja, neneknya pake gadget buat nyuapin anakku dan biarin mereka main layar berjam-jam. Dia bilang aku ngerusak suasana rumah kalo nolak layar. Anakku jadi nggak mau makan sama aku tanpa layar, jadi pas aku capek, kadang aku ngikut. Aku nggak mau bikin anakku menjauh. Tapi pas ini terjadi, suamiku manggil aku munafik dan ngomong hal-hal yang nggak enak. Nyesek banget ngobrol sama orang yang nggak ada dan nggak dengerin. Aku capek banget. Aku benci harus curhat kayak gini. Aku mikir apa aku istri yang buruk atau Muslimah yang buruk karena kadang aku bener-bener benci dia. Dan di atas itu semua, aku mungkin gagal dapet gelar-nyelesainnya berarti harus bepergian dan ninggalin anakku. Aku bahkan nggak ngunjungin keluargaku; aku cuma tinggal sama tanteku beberapa hari, dan mereka marah. Ibu mertuaku manggil aku toxic pas hari aku balik. Apa salah sih kadang benci sama pasangan dan mikir hal-hal yang kasar? Sekarang ini, aku bener-bener nggak bisa hormatin dia.