Wamenhaj Tegaskan Haji Bukan Komoditas Ekonomi, Ada Misi Besar Transformasi Bangsa
Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa penyelenggaraan haji tidak boleh menjadikan jemaah sebagai komoditas ekonomi. Dalam Rapat Kerja Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji, ia menekankan pentingnya mengembalikan orientasi utama pada pelayanan publik dan pembangunan peradaban. “Kita ingin hentikan perilaku jelek yang menjadikan jemaah haji dan umrah sebagai komoditas ekonomi. Mereka harus menjadi subjek, menjadi pelaku transformasi peradaban dan keadaban,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Dahnil menyebut tiga amanah besar yang diemban penyelenggara haji: amanah dari Allah SWT, amanah dari jemaah dan rakyat Indonesia, serta amanah dari Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Ia juga memperkenalkan konsep trisukses sebagai tolok ukur keberhasilan, yaitu sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, dan sukses keadaban dan peradaban.
Pada target ketiga, haji diharapkan menjadi instrumen transformasi bangsa. Jemaah yang kembali diharapkan membawa semangat kebangsaan, nasionalisme, dan nilai-nilai kejujuran serta kepedulian sosial. Dahnil menekankan bahwa aktivitas ekonomi dalam ekosistem haji harus memberi manfaat bagi perekonomian nasional tanpa mengorbankan hak dan kenyamanan jemaah.
Pernyataan ini menandai reformasi tata kelola haji menuju paradigma yang lebih substansial, di mana keberhasilan diukur dari kualitas pelayanan, dampak ekonomi yang sehat, dan kontribusi terhadap pembangunan karakter bangsa. Jemaah haji adalah manusia yang harus dimuliakan, bukan objek keuntungan ekonomi.
https://mozaik.inilah.com/haji