Diterjemahkan otomatis

Saya kesulitan untuk akur dengan orang tua saya... semoga Allah membimbing kita.

As-salamu alaykum saudariku, Selalu ada ketegangan antara orang tua saya dan saya, terutama dengan ibu saya. Saya gak tahu kenapa. Saya merasa jadi anak yang sangat sulit. Saya sering banget nangis, bahkan untuk masalah kecil atau ketidaknyamanan yang sepele. Waktu saya jauh di universitas, orang tua saya kelihatannya lebih bahagia dan rumah juga lebih damai. Setelah saya lulus dan kembali ke rumah, rasanya seperti saya udah mengganggu keseimbangan itu. Saya ini orang yang gampang banget terpancing oleh banyak hal - negatifitas, cahaya terang, suara, dan lain-lain. Mungkin itu sebabnya saya sering merasa tegang di rumah. Saya gak paham kenapa saya merasa begitu rendah begitu saya melangkah masuk ke dalam rumah. Saya khawatir saya gak baik untuk orang tua saya, dan kadang saya merasa mereka juga gak baik untuk saya. Saya sangat mencintai mereka dan alhamdulillah mereka berusaha yang terbaik; saya gak pernah bisa membalas budi mereka. Saya takut saya gak akan pernah jadi anak yang mudah dan tanpa masalah. Sejak pubertas saya udah jadi anak yang gampang nangis dan berjuang dengan depresi (lama gak terdiagnosis, kemudian dikonfirmasi). Ibu saya gak suka ketika saya bilang banyak hal itu karena depresi saya; dia bilang saya memberi label pada diri sendiri. Pikiran saya gak pernah berhenti - selalu defensif, selalu siaga terhadap diri sendiri dan dunia luar. Kadang saya bilang saya ingin mati, kemudian saya nangis karena bilang begitu. Saya membayangkan hidup seperti ini, berjuang melawan banyak pertempuran dan menunggu kematian: berusaha sebaik mungkin dalam deen sambil menghadapi depresi sampai akhir. Saya bertanya-tanya apakah pernikahan bisa mengisi kekosongan itu, lalu saya khawatir saya akan merusak hidup orang lain dengan perjuangan saya. Saya nggak punya jawaban, saudariku. Saya bahkan gak tahu apakah ada yang akan membaca atau membalas. Hidup saya sepertinya mengambang dan saya merasa kehilangan arah. Semoga Allah memberikan kemudahan, menguatkan iman kita, menyembuhkan hati kita, dan membantu keluarga kita. Ameen.

+308

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Kamu bukan 'sulit', sis. Kayaknya kamu butuh kasih sayang, bukan disalahkan. Kalau obat atau terapi membantu orang lain yang kamu kenal, mungkin bisa bantu kamu juga. Jangan menyerah. Semoga Allah menyembuhkan dan membuat rumahmu damai. Ameen.

+15
Diterjemahkan otomatis

Saya sudah pernah merasakannya - ketegangan keluarga bikin capek. Pas mama saya nggak mengerti depresi saya, tante yang saya percayai membantu menjembatani jarak itu. Apakah ada seseorang di keluarga yang bisa mendukungmu dengan lembut? Berdoa agar semua dipermudah dan dapat petunjuk.

+6
Diterjemahkan otomatis

Oh sayang, aku sangat relate. Ibuku dulu sering ngomong yang sama tentang 'pelabelan' dan itu sakit. Kamu gak lemah karena menangis. Mungkin coba bikin batasan kecil dan jelasin pemicunya perlahan-lahan pas mereka tenang. Dua untuk hatimu, beneran.

+6
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum sister, aku sangat menyesal kamu harus membawa ini. Kamu bukanlah beban - depresi itu nyata. Sudahkah kamu berpikir untuk menemui terapis atau bicara dengan dokter? Aku mengirim doa untuk kemudahan dan kesabaran. Kamu pantas mendapatkan kebaikan, terutama dari orang tuamu. Ameen.

+19
Diterjemahkan otomatis

Mengirimkan cinta. Pernikahan bukanlah solusi untuk segalanya, jangan terburu-buru memikirkan itu. Penyembuhanmu yang utama. Bisakah kamu mencari saudari lokal atau konselor untuk diajak bicara? Kamu layak mendapatkan dukungan dan ketenangan. Semoga Allah mempermudah itu untukmu. Ameen.

+11
Diterjemahkan otomatis

Aku merasakannya dalam-dalam. Pulang ke rumah bisa jadi bagian yang paling sulit kadang-kadang. Jika bisa, tulislah surat untuk orang tuamu tentang apa yang kamu rasakan - itu pernah membantuku saat kata-kata tidak bisa mengungkapkan. Pelukan besar dan doa dariku.

+11
Diterjemahkan otomatis

Saudariku, perasaanmu itu sah. Gak apa-apa untuk merasakan kelembutan. Mungkin coba jadwalkan jalan kaki sebentar atau waktu sendiri untuk meng-reset diri setelah masuk ke rumah. Hal-hal kecil membantu aku merasa nggak terlalu terbebani. Aku menjaga kamu dalam doaku.

+7

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar