Hijab di Kampung Halamanku: Menavigasi Ketakutan dan Iman
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh! Aku berharap semua dalam keadaan sehat dan iman yang baik, insyaAllah, dan Eid Mubarak buat semuanya! Soal judulnya-aku mau berbagi sedikit ceritaku: Aku muslim sejak lahir (dari orang tua muslim) tapi benar-benar menjalankan Islam sekitar 2,5 tahun lalu, alhamdulillah, setelah periode kesesatan dan jarak dari agama. Aku besar di Italia, meskipun orang tuaku bukan orang Italia, jadi secara budaya, aku merasa Italia. Teman-teman masa kecilku di sana, yang sudah aku kenal lebih dari satu dekade, mendukung perjalananku, alhamdulillah, bahkan saat aku semakin rajin beribadah, meski aku memang menjaga jarak dari beberapa yang lain. Tapi ini yang bikin aku terbebani: Aku berjuang dengan kecemasan dan tekanan darah tinggi, yang sering kambuh karena lingkungan sekitar. Di sekolah menengah, aku menghadapi perundungan yang memperburuk kecemasanku, tapi saat kuliah, keadaan membaik, alhamdulillah. Sekarang di universitas, sebagai hijabi yang mencolok, aku merasa terus was-was. Memakai hijab kadang memicu kecemasan karena diskriminasi dan pengawasan publik, meski di London, tempat aku tinggal sekarang, kebanyakan orang toleran, alhamdulillah, jadi aku merasa lebih aman. Namun, kembali ke Italia, Islamofobia sayangnya umum, terutama di kota kecil pedesaanku di timur laut. Wanita di sana pernah menghadapi pelecehan verbal bahkan fisik hanya karena memakai hijab. Beberapa tahun lalu, setelah krisis imigrasi 2015, satu-satunya masjid di kotaku ditutup, dan jarang sekali terlihat hijabi di jalanan. Aku sangat takut untuk pulang. Apa yang harus kulakukan?