Hai semuanya, ada pertanyaan nih soal nulis karakter dari agama lain
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saat ini aku lagi ngerjain cerita fiksi yang tokoh utamanya non-Muslim, dan ditulis dari sudut pandang orang pertama. Karakternya menganut agama seperti Kristen atau sejenisnya, bukan ateis. Di beberapa bagian cerita, dia mungkin nyebut nama Tuhannya sendiri dalam dialog-dialog yang emosional atau penuh harapan. Sebagai penulis yang Muslim, aku mulai memikirkan, apa nulis ekspresi kayak gitu tanpa sadar bisa dianggap bermasalah, padahal niatku murni artistik dan gak ada maksud buat melakukan syirik. Gimana menurut kalian, pendekatan seperti apa yang bisa diambil biar tetap kreatif tapi juga bijak? Aku bener-bener menghargai masukan kalian.