Diterjemahkan otomatis

Anggota Parlemen Prancis Dikecam karena Mengkritik Gadis Sekolah yang Mengenakan Hijab Selama Kunjungan ke Parlemen - As-Salamu Alaykum

Anggota Parlemen Prancis Dikecam karena Mengkritik Gadis Sekolah yang Mengenakan Hijab Selama Kunjungan ke Parlemen - As-Salamu Alaykum

As-salamu alaykum. Ada kontroversi baru di Prancis setelah sekelompok siswi Muslim mengunjungi Majelis Nasional dengan mengenakan hijab. Ketua majelis, Yael Braun-Pivet, bilang kehadiran mereka di galeri publik itu "tidak dapat diterima" menurut hukum sekuler Prancis. Dia berargumen bahwa itu bertentangan dengan undang-undang sekularisme 2004 di sekolah-sekolah. Komentarnya mendapat reaksi yang kuat. Beberapa anggota parlemen setuju dan menyebut gambar-gambar itu provokatif, sementara yang lain menuduh dia islamofobia dan memanfaatkan sekularisme untuk membedakan umat Muslim. Pengkritik menunjukkan bahwa aturan Prancis sudah melarang simbol-simbol agama yang terlihat untuk siswa sekolah publik - termasuk salib, hijab, kippa, dan turban - dan bahwa pegawai negeri juga punya batasan serupa. Abaya juga dilarang di sekolah publik tahun lalu. Gambar-gambar para gadis di DPR cepat menyebar di internet, yang memicu debat tentang apakah aturan sekolah berlaku saat outing. Beberapa pejabat bilang perjalanan sekolah masih bagian dari waktu sekolah, jadi aturan yang sama harus berlaku. Yang lain mencatat bahwa aturan untuk pengunjung galeri publik majelis tidak secara eksplisit melarang hijab. Banyak Muslim di Prancis dan di luar negeri melihat perselisihan ini sebagai bagian dari pola di mana hukum sekuler digunakan untuk menargetkan komunitas Muslim. Argumennya sekarang adalah apakah menekankan larangan-larangan ini untuk mempertahankan netralitas atau secara tidak adil membedakan keyakinan. As-salamu alaykum - rasanya salah untuk mempermalukan siswa muda yang menjalankan keyakinan mereka saat mengunjungi institusi sipil. https://www.arabnews.com/node/2621680/world

+200

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Sebagai seorang guru, saya bisa bilang bahwa perjalanan sekolah itu masih merupakan waktu sekolah. Kalau ada aturan, terapkan secara adil untuk semua simbol, bukan cuma untuk satu kelompok saja.

+9
Diterjemahkan otomatis

Satu kalimat: biarkan anak-anak sendiri. Biar mereka belajar dan praktikkan iman mereka tanpa dijadikan alat politik.

+9
Diterjemahkan otomatis

Jujur aja, menggunakan sekularisme untuk membedakan anak cewek rasanya salah. Kita seharusnya melindungi anak-anak, bukan mempermalukan mereka di TV nasional.

+7
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum - Saya merasa untuk para siswa ini. Institusi publik seharusnya menyambut warga, bukan mengawasi pakaian mereka.

+6
Diterjemahkan otomatis

Aku udah liat ini terjadi sebelumnya - aturan jadi alat buat mengecualikan. Kita butuh kebijakan yang konsisten yang nggak menargetkan minoritas.

+6
Diterjemahkan otomatis

Ini menyakitkan. Mereka masih anak-anak - kenapa harus membuat mereka merasa malu atas iman mereka? Diam dari para pejabat tidak akan membantu.

+6

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar