Diterjemahkan otomatis

Merasa Tersesat di Ramadan dan Mencari Bimbingan

Assalamu alaikum semuanya. Judulnya udah nyeritain semuanya sih-aku seorang mahasiswi yang berjuang sama depresi, kecemasan, dan banyak kefrustrasian. Aku udah berusaha maksimal di Ramadan ini, tapi terus diingetin buat 'fokus aja sama kuliah' dan hidup itu panjang, padahal di dalam hati aku tau hidup ini sebenernya pendek. Pengen ikut salat Tarawih, tapi nggak aman buat aku pergi, dan aku malu banget gabung sama saudari-saudari yang pakai hijab karena akhirnya aku cuma merasa iri. Pengen baca Quran lebih banyak, tapi aku takut banget ngegagap atau kelewat hal-hal penting sampe hampir nggak pernah coba-ini udah Hari ke-8 dan aku masih mentok di Juz 1. Jujur, bahkan salatku aja jadi perjuangan. Aku udah memaksakan diri buat puasa, tapi itu juga jadi susah banget sekarang. Nggak ada hal tentang bulan ini yang bikin aku senang lagi, dan aku rasa doa-doaku nggak akan pernah dikabulin. Aku tau tujuan aku adalah untuk menyembah Allah SWT, tapi pikiran itu aja nggak bikin sakitku berkurang. Aku akui, kadang aku merasa kayak cangkang kosong yang dipenuhi sama rasa iri. Nggak enak ngomong gini, tapi aku kesel sama muslimah lain karena rasanya mereka selalu dipilih dibandingin aku, hidupnya lebih gampang, punya komunitas yang suportif, dan pernikahan yang diberkahi, sementara aku cuma dikasih tahu buat 'fokus kuliah', 'cari uang', dan 'lupakan pernikahan'. Sementara itu, aku minum obat-obatan buat 'memperbaiki' apa yang rasanya kayak semua kekurangan yang aku punya. Aku lelah dan nggak nyaman di Ramadan ini, dan aku berandai-andai punya nasib yang lebih baik kayak yang orang lain punya. Aku capek dengerin kehidupan pernikahan orang lain dan liat penghitung dzikir mereka, capek liat orang lain pakai hijab sambil ngelakuin hal-hal yang nggak sesuai sama kesopanan, sementara aku sendiri memohon ke keluarga sendiri buat diperbolehin bersikap sopan dan malah dikasih tahu kayak 'Hijabis itu salah' dan 'Udah, kuliah aja'. Baru-baru ini aku liat seorang saudari sama temen cowok, dan dia dapet lamaran sementara aku rasanya kayak memohon-mohon buat dipilih seseorang. Aku udah tetap berada di jalan yang benar-aku hindari hubungan haram, aku pendiam dan nurut-jadi ada apa dengan aku? Aku nggak tahan lagi. Apa gelar dan kuliahku cuma segini nilai aku sebagai perempuan? Aku butuh bantuan buat bikin rencana. Kalo nasibku nggak jelas, setidaknya aku bisa minta saran buat memaksimalkan Ramadan ini. Aku capek sama semua obat-obatan yang keluarga aku maksa, capek merasa sakit pas sahur, dan capek malu-maluin pas buka puasa. Aku benci berurusan sama masalah kesehatan yang kayaknya bikin keluargaku nggak mau cari pasangan buat aku. Mereka udah menuduh aku hal-hal yang salah sejak aku kecil, dan aku udah betul-betul lelah. Aku takut banget sama ikhwan muslim sampe pernah aku minta maaf ke salah satunya di grup mahasiswa cuma karena nanya pertanyaan, dan aku juga menghindari akhwat. Meski semua ini terjadi, aku bener-bener pengen berubah dan memperbaiki diri di Ramadan ini. Saran apapun bakal aku apresiasi, dan gak apa-apa kalo kamu nggak suka aku abis baca ini. Kadang aku rasa nasib yang lebih baik bakal nyelametin aku, dan aku nggak ngerti kenapa Allah SWT nguji aku kayak gini.

+284

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Dik, perasaan kamu sangat valid. Depresi dan kecemasan memang perjuangan yang nyata, apalagi di bulan Ramadan. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Allah melihat usahamu meski kamu masih bertahan di Juz 1.

+7
Diterjemahkan otomatis

Ya ampun, ini banget ngerasanya. Tekanan buat 'belajar aja' sambil liat semua orang lanjut menjalani hidup itu bener-bener menekan banget. Kamu nggak sendirian kok.

+4
Diterjemahkan otomatis

Mengirimkan banyak cinta untukmu. Tolong jangan bandingkan perjalananmu dengan sorotan kehidupan orang lain. Nasibmu adalah milikmu sendiri dan ditulis dengan kebijaksanaan yang tak bisa kita lihat.

+25
Diterjemahkan otomatis

Bagian tentang rasa cemburu itu benar-benar menyentuh. Memang perjuangan terus-menerus, tapi ingatlah Allah tahu pergolakan sejati di hatimu. Mungkin mulai dengan doa-doa kecil yang konsisten?

+8
Diterjemahkan otomatis

Membacanya sungguh menyedihkan. Nilai dirimu jauh lebih besar dari sekadar gelar akademismu. Semoga Allah meringankan rasa sakitmu dan membimbing keluargamu untuk dapat memahamimu.

+16
Diterjemahkan otomatis

Tekanan keluarga itu terdengar tak tertahankan. Teruslah berdoa untuk kesabaran. Dan mungkin bicaralah dengan syeikh atau konselor yang bisa dipercaya? Kesehatan mentalmu juga penting, lho.

+18
Diterjemahkan otomatis

Ibadahmu adalah antara dirimu dan Allah. Jangan biarkan rasa malu menghalangimu shalat di rumah atau membaca Quran perlahan-lahan. Yang penting kemajuan, bukan kesempurnaan.

+8

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar