Diterjemahkan otomatis

Merasa Seperti Orang Asing di Komunitas Muslim Saat Tidak Bisa Bahasa Arab?

Assalamu alaikum semua, Aku seorang Muslim dari Asia Tenggara dan aku tidak bisa bahasa Arab. Aku pernah belajar bahasa itu selama sembilan tahun di sekolah, tapi untuk jadi benar-benar fasih memang tidak mudah. Sekarang aku tinggal di negara Barat, dan meskipun ini bukan tahun pertamaku di sini, Ramadan kali ini adalah pertama kalinya aku benar-benar mencoba bergabung dengan komunitas Muslim internasional. Sudah beberapa kali aku merasa 'terasingkan' di komunitas ini, seperti jadi minoritas di dalam minoritas, yang bikin aku mempertanyakan beberapa aspek dalam cara Islam dipraktikkan. Pertama, di iftar komunitas, sering banget ada momen di mana semua orang cuma ngomong bahasa Arab bahkan bukan jenis yang aku ingat pernah belajar yang bikin aku merasa nggak nyambung. Kedua, aku perasaan ada semacam superioritas laki-laki, di mana pria kayaknya punya lebih banyak kesempatan untuk ikut ibadah. Misalnya, masjid sini buka lebih banyak hari untuk laki-laki daripada perempuan, dan bagian perempuan cuma dua baris sementara laki-laki dapet kayaknya dua ruangan utuh. Aku nggak pernah ngalamin ini di negara asalku, di mana semua orang punya hak dan kesempatan yang sama untuk shalat tanpa pandang jenis kelamin. Aku paham budaya mungkin berpengaruh, tapi tetap aja ini nambah keraguan aku. Ketiga, beberapa orang terutama yang bisa bahasa Arab suka sok ngatur orang lain. Madhab yang aku kenal sejak kecil beda sama yang kebanyakan Muslim di dunia anut, jadi beberapa praktiknya beda (seperti gerakan shalat atau nentuin awal Ramadan). Sepahaman aku, mengikuti imam mana pun yang diakui itu boleh, dan sok ngatur orang lain kayaknya nggak perlu. Pemimpin komunitas sering bilang, 'Ini yang kami putuskan, ikutin kami,' bukannya, 'Berdasarkan diskusi kami dengan para ulama ini, ini yang terbaik, tapi kalau kamu ikut yang lain, ya gapapa wallahu 'alam bisshawab.' Keempat dan ini yang paling ganggu aku setiap qunut, imamnya baca doa tambahan dalam bahasa Arab selain dari Quran dan hadits, dan semua orang mulai nangis. Jujur, daripada bisa larut dalam doa, aku malah mikir: 'Apakah agama yang aku anut sejak lahir harus dipraktikkan kayak gini? Apa aku termasuk di sini? Apa ini beneran untuk semua orang?' Kalau doa-doanya harus pakai bahasa Arab, makin jelaslah keraguan aku. Apakah Islam benar-benar rahmatan lil alamin, atau cuma untuk orang Arab atau yang bisa bahasa Arab? Aku nggak ragu sama sekali di hati bahwa Allah itu ada, Maha Esa, mendengar aku, dan selalu menolong aku. Mungkin Islam memang rahmatan lil alamin tapi kadang dipraktikkan dengan cara yang salah? Untuk sesama Muslim yang nggak bisa bahasa Arab: pernah nggak kamu ngerasa kayak gini? Gimana kamu lihat situasi kayak gini? Wa alaikum assalam.

+42

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Iya dong, 100%. Soal 'pengawasan' itu bikin lelah banget. Rasanya seperti kita salah terus dalam menjalankan semuanya. Allah yang Maha Tahu isi hati kita.

+3
Diterjemahkan otomatis

Merasa setiap kata-kata ini. Khususnya bagian tentang menangis saat berdoa. Kadang aku cuma berdiri di sana merasa terputus. Solidaritas dari Indonesia.

+3
Diterjemahkan otomatis

Terima kasih sudah berbagi. Aku orang Turki dan juga pernah merasakan hal serupa di komunitas internasional. Dinamika gender yang kamu sebutkan memang bikin aku tersentuh.

+2
Diterjemahkan otomatis

Aku begitu merasakan ini. Bahasa Arabku payah banget, kadang cuma bisa senyum-senyum sama angguk-angguk aja pas buka puasa. Kamu nggak sendirian kok rasanya dikucilin, sis.

0
Diterjemahkan otomatis

Sebagai muslim non-Arab di UK, postinganmu sangat menyentuh. Hal-hal kecil yang bertumpuk ini sering membuat kita merenungkan tempat kita di sini. Semoga Allah melapangkan jalan bagi kita semua.

+1

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar