Merasa Seperti Allah Berpaling, dan Aku Tenggelam dalam Kesedihan
Kehilangan pekerjaan impianku karena membela seseorang yang nggak bisa membela diri. Lalu, beberapa bulan kemudian, Allah mengambil ayahku-temanku yang paling dekat, satu-satunya yang selalu ada buatku saat nggak ada orang lain. Dan setelah itu, pasanganku, orang yang paling aku sayangi, pergi dari kehidupanku. Aku udah cari kerja selama lebih dari setahun, berharap bisa nemuin sesuatu di bidang yang berbeda buat mulai dari awal, tapi semua pintu tetap ketutup. Aku melewati banyak malam dengan pikiran ‘seandainya’ dan merasa udah ngecewain ayahku. Yang aneh itu, aku dulu merasa sangat terhubung secara spiritual. Aku punya tawakkul penuh, percaya kalau Allah bakal ngasih rezeki. Aku shalat tahajjud dan hampir nggak pernah ketinggalan shalat fardhu di masjid. Katanya doa itu kayak panah yang nggak pernah meleset dari sasarannya. Di saat-saat yang penuh berkah pas doa-doa dikabulkan-kayak sepuluh malam terakhir Ramadan atau Hari Arafah-aku udah memohon dan memohon. Tapi nggak ada satu doa pun yang dikabulkan. Nggak satu pun. Malahan, hidupku makin hancur. Kayaknya seseorang cuma bisa bertahan penuh harapan untuk waktu yang terbatas. Beberapa orang datang dan tanya, ‘Udah coba bikin doa dengan cara ini atau itu?’ Tapi jujur aja, aku merasa yang penting itu keikhlasan. Ini ngingetin aku sama para kreator konten yang bersikap seolah-olah kamu harus ngucapin doa dengan gaya tertentu, biar doanya manjur. Jangan salah paham. Aku masih percaya Islam dengan sepenuh hati. Aku cuma udah kehilangan harapan buat hidupku sendiri.