Malu dengan Kondisi Rumah Keluargaku
Assalamu alaikum semuanya, Aku benar-benar butuh berbagi soal ini karena sudah sangat memberatkan hatiku dan bikin aku malu serta sungkan terus. Jadi intinya, aku baru pulang ke rumah setelah selesai studi. Alhamdulillah, aku bersyukur bisa hemat biaya hidup, tapi ada situasi sulit yang sangat mempengaruhiku. Aku merasa malu dan frustasi banget sama rumah kami. Jujur saja, masa kecilku nggak mudah – ibuku dulu punya masalah kesehatan mental, dan kadang keadaan cukup sulit. Rumah kami sangat berantakan, dan dapurnya ada lapisan minyak dan kotoran yang numpuk selama bertahun-tahun. Meski kamu coba bersih-bersih, kayaknya cepet banget berantakan lagi. Tembok di dapur juga jadi gelap karena asap masakan yang menahun. Aku rasa ibuku agak susah melepaskan barang-barang dan cenderung menyimpan banyak benda. Rasanya, bahkan bersih-bersih total pun nggak banyak ubahnya setelah puluhan tahun terbengkalai. Aku nggak punya uang atau energi buat benahi semuanya, dan apa pun yang aku coba cuma bersifat sementara sebelum akhirnya berantakan lagi. Ini jadi sangat berat buatku karena waktu aku jauh di sekolah, aku udah punya rutin dan kebiasaan bersih-bersih sendiri. Sekarang aku merasa terjebak di rumah. Kalau aku sebut soal mau bersih-bersih, ibuku nggak anggep serius. Dulu aku rutin bersih-bersih tiap Minggu, tapi dia malah nggak senang. Aku curiga ini akibat kebiasaan nenekku yang bersih-bersih ekstrem dan mungkin pengaruhi ibuku. Seumur hidupku, aku selalu malu sama rumah kami. Aku nggak pernah mau ajak teman atau saudara main, dan aku berusaha menghindar kalau ada tamu yang datang. Orang mungkin pikir aku nggak bantu ibuku, tapi sebenarnya kekacauannya numpuk lebih cepat dari yang bisa aku tangani, dan dia nggak mau aku bersihin beberapa hal. Aku nggak bisa pindah sekarang, tapi rasa maluku terus muncul. Aku juga nggak mau siapa pun tinggal dalam kondisi kayak gini. Jujur, aku nggak tau lagi harus ngapain. Aku benar-benar nggak nyaman kalau ada tamu, tapi ibuku malah ngajak orang tanpa keliatannya khawatir. Aku tau ini panjang, tapi aku benar-benar perlu ungkapin perasaan ini di tempat yang nggak bakal ngehakimiku.