Dupatta dan hijab di pertemuan keluarga - mencari saran
As-salamu alaykum, Aku cuma pengen nanya, ada nggak yang merasa aneh atau agak ngeselin waktu ibu bilang kita harus nutup kepala dengan dupatta di depan anggota keluarga mahram (kayak paman dari pihak ibu) saat kumpul-kumpul - padahal sepupu-sepupu yang ada di situ semua masih remaja. Dari yang aku baca, pakai dupatta atau hijab di sekitar mahram itu nggak wajib, jadi aku merasa conflicted. Di kumpul keluarga baru-baru ini, aku sempet ngeluarin dupatta sebentar buat ngerapihin dan nyepitnya lagi dengan bener, pas ibu lihat, dia langsung marah dan nyerocos “mana dupattamu?” ke arahku. Itu bikin aku bener-bener kecewa dan kesel. Nggak ada sepupu cewekku yang pakai dupatta, dan ibu bilang “hanya karena mereka nggak pakai, bukan berarti kamu juga nggak boleh.” Aku juga nggak bermaksud kurang ajar atau mau lepas, tapi pas dia ngomong gitu, aku merasa terbuka padahal aku udah pakai baju yang sopan. Aku jadi merasa malu dan itu bikin aku masih sebel banget sama dia. Aku paham sih, di budaya Asia Selatan dan budaya religius lainnya, pakai dupatta atau mematuhi pardah itu tanda respect, dan aku berusaha untuk mengikuti norma-norma itu. Tapi, dibilang keras sama keluarga sendiri - apalagi ibu - karena sebentar aja nggak pakai dupatta itu bener-bener bikin kepercayaan diri kita jatuh. Itu bikin putus semangat dan bikin kita mikir-mikir terus. Situasi kayak gini bikin aku meragukan beberapa bagian tentang hijab. Hijab itu awalnya bukan sepenuhnya keputusanku sendiri, meskipun kadang-kadang bikin aku merasa berdaya - Alhamdulillah itu membuka kesempatan dan bantu aku di masa-masa sulit. Tapi, meskipun udah pakai hijab dan baju yang sopan, aku juga pernah ngalamin abus dan Islamophobia, plus masalah dupatta ini bikin aku ngerasa tambah stres dan tekanan. Kadang bikin aku wondering, apa aku salah paham tentang hijab. Ibu udah ngomong hal-hal kayak “kamu harus pakai dupatta, mana?” selama bertahun-tahun - aku udah pakai hijab sejak umur 11, dan dia udah mulai komentar soal dupatta pas aku umur 9. Dia sendiri nggak bener-bener pakai hijab sampai usia awal 20-an, dan aku cuma sedikit lebih muda dari itu, jadi aku nggak ngerti kenapa dia begitu ketat sama aku. Aku sayang dia, tapi seringkali aku merasa tertekan dan kayak nggak bisa bernapas bahkan di rumahku sendiri di depan saudara laki-lakiku dan ayah, apalagi pas keluarga datang. Aku jujur benci kumpul-kumpul. Apa ada yang bisa relate dengan ini? Gimana cara kamu menghadapi atau menetapkan batas? Ada saran praktis tentang ngomong sama orang tua tentang ini tanpa menyebabkan konflik besar yang bakal sangat membantu. JazakAllahu khairan untuk segala pemikirannya.