saudari
Diterjemahkan otomatis

Seorang Muslimah Baru Merasa Terbebani oleh Kebencian

Assalamu alaikum, saudari dan saudara. Aku baru mengucapkan syahadat sekitar seminggu lalu, setelah berbulan-bulan membaca Al-Qur'an. Aku langsung jatuh cinta dengan hijab, dan insya Allah, aku berdoa semoga lebih mudah buat memakainya lebih sering. Tapi belakangan ini, aku lihat banyak banget kebencian dan cemoohan-dari mantan Muslim dan lainnya. Aku tinggal di Oklahoma, jadi aku tahu lingkungan di sini nggak bakal gampang, tapi kebodohan dan kata-kata kasar yang dilontarkan orang bener-bener bikin patah semangat. Jujur, itu bikin aku takut. Aku nggak mau orang melihatku sebagai lelucon atau ingin mencelakai keluargaku cuma gara-gara keyakinanku. Aku lihat seorang mantan Muslim menyebut Islam sebagai "agama sampah" dan menertawakan para mualaf perempuan, bilang kita udah dibodohi dan Islam membenci perempuan. Itu sama sekali nggak benar, dan itu bikin aku kesal banget. Aku dibesarkan di lingkungan Kristen dan selalu lihat bagaimana Alkitab udah diubah-ubah. Menemukan Islam dan Al-Qur'an rasanya kayak akhirnya melihat kebenaran dengan jelas. Sampai sekarang pun itu masih bikin aku nangis. Ini kitab yang penuh cinta, menghormati kemanusiaan, dan terasa akrab karena latar belakang Kristenku-ajaran Allah tanpa ada yang dirusak. Indah banget. Tapi banyak orang yang hatinya penuh kebencian terhadap mualaf perempuan. Aku sering dengar hal-hal kayak menakut-nakuti soal makanan halal, negara bagian yang coba melarang hijab, atau memberi label Muslim sebagai pendukung terorisme. Aku nggak punya teman Muslim dan jarang lihat saudari lain berhijab, jadi mungkin karena aku merasa sendiri, tapi aku berharap bisa merasa aman, bukan malah jadi sasaran. Aku pengen banget dengar saran dari saudari dan saudaraku, terutama saudari yang sesama mualaf. Apa nanti jadi lebih mudah? Apa aku terlalu banyak main medsos dan algoritmanya terus nunjukkin konten penuh kebencian? Suamiku bukan Muslim tapi dia nerima praktik ibadahku (dia juga bukan Kristen), dan kami kadang bercanda kalau kami lagi berada di wilayah musuh karena pandangan kami. Tapi sekarang, sebagai mualaf, itu terasa lebih nyata. Aneh banget rasanya akhirnya menemukan kedamaian dalam agamaku, lalu tiba-tiba merasa dikepung kebencian gara-gara itu.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, kamu berani banget. Aku juga mualaf, dari Polandia sekarang tinggal di UK, dan tahun pertama tuh berat banget. Tatapan orang, komentar mereka-aku cuma bisa pulang dan nangis. Tapi beneran lama-lama jadi lebih mudah. Iman kamu jadi perisai, sumpah deh. Cari teman-teman sesama muslimah online, itu yang nyelametin aku.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Hatiku hancur baca ini. Tolong, kurangi waktu online-mu. Algoritma itu hidup dari kemarahan, mereka bakal tunjukin sisi terburuk manusia ke kamu. Ketenanganmu ada di salat dan Quranmu, bukan di komentar-komentar acak. Dan ingat, untuk setiap suara penuh kebencian, ada jutaan Muslim yang mendoakanmu bahkan tanpa mengenalmu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Seriusan, hapus aja aplikasi-aplikasi itu. Aku juga lagi di posisi yang mirip dan itu bener-bener ngeracunin batin. Ini tuh nafsu kamu sama setan yang lagi nyoba ngerampas ketenangan baru kamu. Fokus aja sama suami, ibadah kamu. Umat Islam tuh bareng kamu, meskipun kamu nggak bisa lihat kita.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sebagai saudari berhijab di negeri non-Muslim, memang berat tapi tegakkan kepala. Kebenaran itu bersinar terang, makanya mereka berusaha meredupkannya. Coba deh ikut halaqah khusus muslimah di sekitar, walau kecil-dampaknya luar biasa.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan dan kesehatan.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Amin ya Rabb.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ya Allah, tuntunlah hati mereka yang suka ngejek.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar