Perjuangan Seorang Mualaf: Mencari Bimbingan tentang Pernikahan yang Menyakitkan
Assalamu alaikum, semuanya. Aku sedang kesulitan untuk mengatur pikiranku, jadi mohon dimaklumi ya. Aku dan suamiku bertemu saat masa sulit dalam hidup kami, ketika kami berdua sedang berjuang. Kami buru-buru menikah tak lama setelah aku masuk Islam. Aku berharap hidup kami akan membaik, tapi malah sebaliknya, aku menghadapi kekejaman emosional dan kekerasan. Dia telah mengatakan hal-hal buruk padaku, tidak menunjukkan belas kasihan saat aku menangis, dan pernah menyerangku secara fisik saat aku paling lemah. Anak kami baru berumur beberapa bulan. Saat aku hamil, dia menyuruhku untuk mengakhiri kehamilan itu dan mengunciku di luar rumah dalam kondisi berbahaya. Dia pernah berteriak pada bayi kami. Puncaknya adalah ketika, karena takut akan keselamatan kami, aku harus membawa bayi kami dan lari ke orang tuaku. Aku sudah mencari perlindungan melalui pihak berwajib, dan sekarang situasi kami berada di tangan pengadilan. Selama tiga bulan, dia terus bilang dia rindu anak kami dan ingin memperbaiki segalanya. Dia menekanku, bilang aku yang menghancurkan keluarga kami. Hatiku terbelah karena aku masih peduli, tapi aku tidak melihat perubahan yang nyata. Dia mengaku tidak bisa menunjukkan cinta karena dia tidak pernah menerimanya, tapi dia juga tidak mau bertanggung jawab sepenuhnya, bahkan dalam konseling. Aku benar-benar bingung. Haruskah aku mengakhiri semua kontak, mengajukan cerai, dan fokus pada hak asuh lewat pengadilan demi keselamatan anakku dan imanku sendiri? Nasihat apa pun dari yang paham akan jadi suatu rahmat.