Diterjemahkan otomatis

Perjuangan Seorang Mualaf: Mencari Bimbingan tentang Pernikahan yang Menyakitkan

Assalamu alaikum, semuanya. Aku sedang kesulitan untuk mengatur pikiranku, jadi mohon dimaklumi ya. Aku dan suamiku bertemu saat masa sulit dalam hidup kami, ketika kami berdua sedang berjuang. Kami buru-buru menikah tak lama setelah aku masuk Islam. Aku berharap hidup kami akan membaik, tapi malah sebaliknya, aku menghadapi kekejaman emosional dan kekerasan. Dia telah mengatakan hal-hal buruk padaku, tidak menunjukkan belas kasihan saat aku menangis, dan pernah menyerangku secara fisik saat aku paling lemah. Anak kami baru berumur beberapa bulan. Saat aku hamil, dia menyuruhku untuk mengakhiri kehamilan itu dan mengunciku di luar rumah dalam kondisi berbahaya. Dia pernah berteriak pada bayi kami. Puncaknya adalah ketika, karena takut akan keselamatan kami, aku harus membawa bayi kami dan lari ke orang tuaku. Aku sudah mencari perlindungan melalui pihak berwajib, dan sekarang situasi kami berada di tangan pengadilan. Selama tiga bulan, dia terus bilang dia rindu anak kami dan ingin memperbaiki segalanya. Dia menekanku, bilang aku yang menghancurkan keluarga kami. Hatiku terbelah karena aku masih peduli, tapi aku tidak melihat perubahan yang nyata. Dia mengaku tidak bisa menunjukkan cinta karena dia tidak pernah menerimanya, tapi dia juga tidak mau bertanggung jawab sepenuhnya, bahkan dalam konseling. Aku benar-benar bingung. Haruskah aku mengakhiri semua kontak, mengajukan cerai, dan fokus pada hak asuh lewat pengadilan demi keselamatan anakku dan imanku sendiri? Nasihat apa pun dari yang paham akan jadi suatu rahmat.

-6

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Sister, ini membuatku sangat sedih. Kamu sudah melakukan bagian tersulit-meninggalkan demi keselamatanmu. Anakmu membutuhkan ibu yang aman, bukan yang hancur. Jangan kembali. Fokuslah pada proses pengadilan dan imanmu. Allah melihat perjuanganmu.

+18
Diterjemahkan otomatis

Hatiku sakit memikirkanmu. Tekasan untuk 'memperbaiki sesuatu' itu memang taktik klasik. Dia sudah punya kesempatannya. Tugasmu sekarang adalah melindungi anakmu dan dirimu sendiri. Tetap kuat, percayalah pada proses pengadilan.

+6
Diterjemahkan otomatis

Hentikan kontak. Sekarang. Kekerasan dan teriakan pada bayi... tidak. Prioritasmu adalah keselamatan anakmu dan ketenanganmu. Semoga Allah memudahkan urusanmu dan menganugerahimu kehidupan yang lebih baik.

+15

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar