Diterjemahkan otomatis

30 dan berjuang dengan hijab saya - butuh saran dari kakak-kakak.

Assalamu alaikum. Aku berharap bisa dapet perspektif dari kakak-kakak yang lebih tua yang pakai hijab. Aku mulai pakai hijab waktu usia 9 tahun karena aku suka penampilannya dan bahkan nyuruh saudara-saudara, sepupu, dan teman-temanku untuk coba juga. Akhir-akhir ini aku menyesal mulai terlalu muda - aku nggak benar-benar paham apa makna hijab atau kenapa aku melakukannya. Sekarang aku sudah menikah dan kadang merasa susah dengan hijab ini. Kadang aku merasa terkurung dan malah benci sama hijabnya, karena keluargaku religius dan semua wanita di sana pakai hijab. Pasti akan menyakitkan bagi mereka kalau aku melepasnya, terutama untuk adik-adik dan teman dekatku. Suamiku bilang dia nggak keberatan dan nyuruh aku lepas aja kalau aku bener-bener nggak mau pakai, tapi bagi aku nggak sesimpel itu. Yang bikin aku bingung lagi adalah aku merasa cemburu pada beberapa wanita Muslim yang aku kenal yang nggak pakai hijab - mereka kelihatannya lebih bebas melakukan apa yang mereka mau. Tentu aja, banyak dari mereka nggak dikelilingi oleh keluarga yang taat, tapi tetap aja aku merasa orang-orang berharap aku bisa jadi representasi Islam dan aku nggak selalu nyaman dengan itu. Aku sendiri juga masih berjuang sebagai Muslim. Inti masalahku adalah merasa nggak bisa melepasnya, seperti aku memaksa diri untuk memakainya saat hati aku tidak selalu sepenuh hati. Nggak ada yang secara fisik memaksaku, tapi aku lebih khawatir tentang bagaimana reaksi keluargaku dan bagaimana itu akan mempengaruhi hubungan kami. Aku mencintai mereka dan merasa aku bisa mengorbankan untuk tidak pakai hijab demi menjaga kedamaian dengan mereka, meskipun aku tahu itu bukan niatan terbaik untuk memakainya. Ini akan sangat menyakitkan untuk orang tuaku yang sudah mulai menua. Ada yang mengalami ini juga? Gimana cara kalian menghadapi rasa bersalah, ekspektasi keluarga, dan perjalanan iman kalian sendiri? Saran untuk menemukan kejelasan dan ketenangan dengan pilihan apapun yang aku buat bakal sangat berarti.

+248

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Jujur, aku memakainya karena semua orang melakukannya sampai pernikahan membuatku berpikir ulang. Aku bereksperimen secara pribadi - gaya yang berbeda, waktu yang lebih pendek - untuk melihat bagaimana aku merasa. Berbicara terbuka dengan suamiku sangat membantu. Kamu pantas menemukan kedamaian, dengan cara apapun.

+8
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam sis - Aku ngalamin ini pas di umur 20-an akhir. Aku mulai dengan langkah-langkah kecil: lebih banyak berdoa, baca, dan ngobrol sama ibuku tentang perasaan tanpa langsung bikin keputusan besar. Gak usah terburu-buru. Hatimu yang bakal ngarahin, jadi bersikaplah lembut pada dirimu sendiri.

+7
Diterjemahkan otomatis

Aku banget ngerasain ini. Buatku, itu membantu banget untuk lihat terapis dan bibi yang aku percayai. Rasa bersalahku berkurang setelah aku berhenti membuat pilihan hanya buat nyenengin orang lain. Tapi, tetep hati-hati sama perasaan keluarga - perlahan-lahan aja dan butuh banyak kesabaran.

+6
Diterjemahkan otomatis

Sudah pernah merasakan. Aku juga merasa cemburu pada perempuan yang 'bebas', tapi kebebasan itu bukan cuma soal pakaian. Aku menetapkan batasan, mengandalkan teman dekat, dan menyampaikan beberapa perasaan ke orang tuaku tanpa ultimatum yang dramatis. Kejelasan datang perlahan - bersabarlah.

+3
Diterjemahkan otomatis

Singkat dan nyata: kamu nggak berutang keputusan kepada siapapun dalam semalam. Berbagi diri sendiri. Kalau menghapusnya bakal bikin orangtuamu sangat sedih, mungkin tunggu dulu dan terus eksplorasi imanmu. Nilai dirimu bukan cuma ada di jilbab.

+8
Diterjemahkan otomatis

Aku juga merasa terjebak, lalu memutuskan untuk mempercepat perjalanan spiritualku: lingkaran Quran, doa, dan obrolan jujur dengan orang tuaku. Pekerjaan batin itu membantuku memilih dari iman, bukan ketakutan. Memang butuh waktu, tapi rasa bersalah itu perlahan memudar.

+5

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar