Kenapa Ini Terjadi padaku? Apa Aku Lagi Dihukum?
Assalamu alaikum, aku butuh saran yang jujur dan apa adanya-tolong jangan ditutup-tutupi atau bersikap baik cuma karena kasihan. Aku jarang posting di forum, dan baru saja download aplikasi ini, tapi aku benar-benar butuh bantuan, jadi tolong jujur. Kalau ceritaku agak berantakan, maafkan ya-aku nggak pandai bercerita dengan rapi. Aku dan kembaranku punya beberapa kesamaan, tapi kebanyakan kami benar-benar berlawanan. Dia laki-laki dan aku perempuan, dan sepanjang hidup kami selalu dibanding-bandingkan. Dia selalu yang pintar, manis, tampan, tenang, sementara aku dianggap baik tapi menyebalkan-terlalu banyak ngomong, berisik, lucu, dan yang "gendut". Begitulah kira-kira. Segalanya selalu lebih mudah buatnya. Dia diperlakukan lebih baik waktu kami kecil, dan sekarang makin parah. Orang tuaku agak tradisional, jadi aku harus di rumah ngasuh adik-adikku sementara dia bisa bebas ngapa-ngapain. Aku kelewatan banyak banget acara kumpul-kumpul, kegiatan sekolah, dan hal-hal seru cuma karena aku perempuan dan dia laki-laki. Masuk akal nggak? Awalnya aku nggak boleh kerja, dan kalau pun mau, nggak bisa karena ayahku maunya aku pulang sekolah langsung ngasuh. Sementara itu, kakakku bisa kerja dan punya uang sendiri. Aku nyaris nggak punya uang selama sekolah, dan rasanya sakit banget tahu aku bisa beli barang yang kuperlu tapi nggak bisa, semua karena aku perempuan. Dan sebelum kamu tanya, ayahku bilang nggak bisa ngasih uang karena anggarannya terbatas, dan kakakku itu pelit-sejuta tahun pun dia nggak akan pernah beliin aku sesuatu yang bagus, bahkan sebagai isyarat ramah sekali pun. Segalanya selalu sesuai keinginannya dan masih begitu, meskipun dia nggak begitu baik padaku tapi memperlakukan orang lain kayak raja. Aku pasti semacam kelinci percobaan buatnya. Dia begitu kesal dan kasar padaku tapi manis ke semua keluarga lain-dan maksudku SEMUA-dan tentu saja ke teman-temannya. Suatu hari dia lagi jahat banget, dan untuk kasih latar belakang, karena dia memperlakukanku buruk, aku mulai balas. Dia pelit, jadi aku juga pelit. Dia kasar, jadi aku juga kasar-hanya karena dia yang mulai. Aku tahu sikap balas dendam itu nggak baik, astaghfirullah, tapi aku nggak bisa nahan. Kenapa dia begitu sombong dan kasar cuma padaku, kembarannya sendiri, tapi meninggikan orang lain? Hari itu pas dia menyebalkan, aku tanya, "Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu memperlakukan orang lain lebih baik." Dia jawab, "Yah, kamu juga nggak baik padaku," dan kami ngobrol seputar itu. Tiba-tiba aku sadar dia benar-aku memang nggak baik padanya. Bukan hanya karena dia mulai bertingkah kasar duluan, dan itu jadi siklus bertahun-tahun, tapi aku bahkan nggak sadar kalau aku jahat. Itu sudah jadi normal buatku, kalau masuk akal. Sejak hari itu, sumpah aku udah berusaha memperlakukannya jauh lebih baik, dan dia juga udah lebih baik. Agak. Aku bilang "agak" karena meskipun dia lebih baik, dia tetap memperlakukan teman-temannya lebih baik daripada aku-bukan dalam arti aneh, aku cuma pengin kami semua setara. Ingat gimana segalanya selalu beres buatnya? Waktu ulang tahun kami beberapa bulan lalu, dia bisa kumpul bareng seluruh kelompok temannya dan pulang jam 10 malam. Itu mungkin kedengaran biasa buatmu, tapi buat kami itu super malam, atau setidaknya sangat malam buatku. Aku cuma boleh keluar sama teman paling satu atau dua jam. Suatu kali aku minta izin ayahku buat ketemu teman-teman beli makanan, dan dia bilang, "Oke, beli makanannya terus langsung pulang." Seriusan? Buat kakakku, dia nggak akan kedipan mata! Lain waktu, aku kasih tahu dia dua hari sebelum rencana ke mal, ingetin sehari sebelumnya, di hari H, bahkan beberapa jam sebelumnya-kami mau ke mal. Hari itu aku nggak ada tanggungan karena adik-adikku di rumah tante dan dia lagi kerja. Kami berangkat jam 4 sore, dan dia nelpon jam 7 nanyain aku di mana, intinya bilang aku kena masalah cuma karena lagi bareng teman-teman. Aku harus buru-buru pulang. Butuh waktu lama buatku sadar, tapi dia selalu begitu di mana pun aku berada, kayak sengaja buat nakut-nakutin atau dapet kesenangan, dan aku nggak tahu kenapa. Kembali ke ulang tahun: dia bahkan nggak ngizinin aku pergi 15 menit ke pusat perbelanjaan, nggak boleh nonton film di dekat situ, dan nolak nganterin. Aku nggak punya siapa-siapa buat diajak main, nggak ada pesta, dan cuma dapet uang-ini seharusnya ulang tahun terbaik. Aku nggak mau cuma duduk di rumah bosan seharian, jadi aku nelpon dua teman dan ujung-ujungnya ke tempat yang bahkan nggak pengin kudatangi, pusat perbelanjaan dekat sekolah. Kamu tahu kan tempat begitu nggak selalu yang terbaik. Dan aku harus pulang jam-jam lebih awal dibanding kembaranku. Itu bukan ulang tahun yang menyenangkan, tapi aku bersyukur buat dua teman yang bisa datang. Aku bukan bilang dia nggak boleh ulang tahun dengan baik-tentu saja boleh, semua orang berhak-tapi kenapa aku nggak? Kenapa aku selalu yang dirugikan? Kenapa aku nggak bisa main lama? Oh, dan tempat yang dia datangi buat ulang tahunnya itu 30 menit jauhnya. Sekali lagi, aku senang dia bersenang-senang, tapi itu cuma salah satu dari banyak contoh. Tolong bilang kalau aku kedengaran cuma mengasihani diri sendiri. Dia masih jauh lebih pintar dariku, alhamdulillah buatnya. Aku nggak bodoh-aku biasa aja-tapi nggak sepintar dia. Kalau belum kelihatan, aku agak kesulitan mengeja, dan banyak orang kira aku mungkin disleksia, tapi nggak pernah dites karena ayahku nolak, meskipun aku dan kakak perempuanku udah minta dia (?????). Dia dapet IPK bagus, 3,6, masha’Allah, dan punyaku cuma 2,95. Aku masih kesal banget karena hampir 3,0. Dia dapet beasiswa penuh ke universitas yang kami berdua tuju, dan aku harus bayar 11k sendiri. Aku nggak tahu gimana caranya-aku nggak bisa pinjam mahasiswa karena alasan yang nggak bisa kusebutkan, dan aku harus masuk universitas ini karena cuma mereka yang punya jurusanku. Aku cuma pengin jadi gadis normal dan kuliah, tapi aku takut karena nggak tahu gimana dapetin 11k tiap semester. Aku nggak punya uang buat belanja keperluan sekolah, nggak ada tabungan sama sekali, dan aku perlu bayar kuliah. Aku pakai sepatu yang sama setiap hari-sepatu yang kudapet setahun lalu, dan sekarang udah rusak gara-gara sesuatu yang dia lakukan. Kakak perempuanku ngambil SEMUA bajuku-dan aku nggak lebay, maksudku SEMUA-buat dipakai tiap dia keluar, yang mana aku nggak bisa sering-sering karena harus ngasuh. Kalau aku keluar pun, aku cuma pakai jins yang sama dan satu dari dua baju yang kuputar. Dan nggak, aku nggak bisa langsung ambil balik-dia sedang/pernah hamil dan melarkan bajuku. Ada banyak banget hal lain yang bisa kuceritakan, tapi mungkin sekarang kamu lihat betapa jarangnya segalanya berjalan sesuai keinginanku. Aku bukan bilang semuanya harus berbalik dan jadi buruk buatnya, tapi kenapa kami nggak bisa setara? Dan ya, IPK 2,9 nggak bisa bayar kuliah, tapi aku udah daftar banyak beasiswa dan aku berusaha keras banget di sekolah-tinggal di sekolah sebisa mungkin sebelum harus buru-buru pulang ngasuh, ingat? Aku mau saran yang jujur dan tulus. Katakan apa yang kamu pikirkan, apa yang harus kulakukan dengan seluruh situasiku? Gimana caranya aku bisa jadi lebih baik? Apa aku cuma mengasihani diri sendiri? Aku lelah dengan semua ini-kenapa Allah melakukan ini padaku? Apa ini semacam hukuman? Aku bukan bilang dia harus baik padaku biar segalanya beres, tapi aku melakukan segalanya buat keluargaku, aku selalu bantu semua orang kalau diminta, tapi aku nggak pernah dapet yang enaknya. Kenapa? Apa aku harus lebih egois? Tolong bilang kalau kamu mau aku jelasin lebih lanjut, atau kalau ada yang membingungkan, atau kalau kamu perlu contoh lain. Aku cuma mau tahu kenapa.