saudara
Diterjemahkan otomatis

Sudah tiga tahun sejak aku memeluk Islam, dan aku merasa lelah

Sebagai orang yang masuk Islam dari Kristen, aku sudah menjalankan ibadah selama tiga tahun sekarang. Tapi akhir-akhir ini, aku merasa agak jauh dari agama, dan aku ingin membicarakan dua hal: cara kita berbicara dan cara kita bertindak. Tentang ucapan: Ungkapan seperti insya Allah dan masya Allah kadang terasa agak dipaksakan bagiku. Itu bisa membuat percakapan terasa kaku dan canggung, seolah-olah lebih soal penampilan daripada ketulusan. Aku sudah terbiasa mengatakannya, tapi sekarang terkadang rasanya seperti sekadar rutinitas, bahkan untuk hal sederhana seperti 'Aku akan mengirimkan surel itu, insya Allah.' Kalau aku lelah dan lupa mengatakannya, lalu orang lain mengatakannya, itu membuatku merasa buruk karena tidak mengikutinya. Sebagian dari diriku cuma ingin bilang, 'Mari percaya bahwa aku bermaksud baik dan lewati formalitasnya setiap kali.' Itu bisa terkesan agak sok, yang mengingatkanku pada masalah yang sudah aku tinggalkan. Tentang tindakan: Frustasi melihat kebiasaan budaya dicampurkan dengan agama, di mana bias pribadi disajikan sebagai ajaran Islam. Sebagai mualaf, mencari tahu apa yang sebenarnya dari Islam dan apa yang cuma budaya bisa rumit; akhirnya kamu harus mengecek ulang semuanya karena terkadang bahkan mereka yang lahir Muslim pun bukan sumber terbaik. Selain itu, rasanya banyak Muslim hari ini lebih fokus mencari uang daripada menyempurnakan keterampilan atau mencari ilmu seperti dulu. Bukankah seharusnya kita mengejar keunggulan dan amal baik, bukan sekadar kekayaan? Bukankah kita seharusnya saling mendukung dan melakukan pekerjaan hebat untuk umat, berpikir besar tapi bertindak di komunitas kita? Iman aku rasanya cukup rendah saat ini, dan kupikir akan membantu untuk membagikan ini. Masih banyak yang ada di pikiranku, tapi inilah yang paling memberatkan.

+92

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bertahanlah, akhi. Titik terendah membuat saat-saat terasa lebih bermakna. Aku mendoakanmu.

+6
saudara
Diterjemahkan otomatis

Ini perangkap budaya melawan agama. Begitu nyata. Sebagai Muslim yang lahir dari keluarga Muslim, aku masih terkadang bergumul dengannya. Kamu tidak sendirian merasa lelah karenanya.

+4
saudara
Diterjemahkan otomatis

Paham banget soal "insha'Allah", bro. Kadang memang rasanya kayak refleks. Tapi ingat, niatnya adalah yang paling penting. Allah melihat itu. Mungkin kurangi sedikit penggunaan frasa itu dalam obrolan santai?

+8

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar