Ribuan orang melarikan diri saat pertempuran menjangkau bagian timur Sudan yang terkena kelaparan - As-salāmu ʿalaykum
As-salāmu ʿalaykum. Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) udah bikin ribuan orang Sudan kabur lagi saat mereka nyiapin serangan baru setelah serangan brutal di el-Fasher, Darfur.
Laporan dari PBB yang dirilis Minggu kemarin nih, memperingatkan tentang konsekuensi kemanusiaan yang makin parah karena ofensif RSF bikin lebih banyak orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. RSF, yang dipimpin Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti), ngeluarin video yang ngaku mereka lagi “mengumpulkan kekuatan besar” dan ngomongin tentang langkah yang segera dilakukan ke el-Obeid.
El-Obeid, ibukota Kordofan Utara di Sudan tengah, terletak di timur Darfur. RSF baru aja menguasai el-Fasher, membunuh dan mengungsikan banyak orang, dan sekarang RSF sama angkatan bersenjata Sudan lagi siap-siap buat pertempuran berat di el-Obeid. Di rekaman RSF, seorang pejuang bilang pasukan udah berkumpul dekat Bara, sekitar 50 km sebelah timur laut el-Obeid.
Organisasi Internasional untuk Migrasi memperkirakan lebih dari 1.200 orang mengungsi dari Bara dan Um Rawaba hanya pada hari Jumat lalu, yang nambah jumlah total pengungsi dari Kordofan Utara jadi 36.825 orang sejak minggu lalu. Di Kordofan Selatan, sekitar 360 orang dilaporkan mengungsi dari Abassiya dan Delami, dan bakal ada lebih banyak pergerakan karena situasinya masih tegang.
Di seluruh Sudan, situasi kemanusiaan udah bener-bener parah, terutama di dan sekitar el-Fasher. Tim PBB bilang akhir pekan lalu ada tambahan 8.631 orang yang diusir dari el-Fasher, bawa total dari wilayah itu jadi lebih dari 70.000 orang sejak RSF mengambil alih kota itu pada 26 Oktober setelah 18 bulan dikepung.
Juru bicara PBB dan lembaga bantuan udah dapet cerita dari para korban yang selamat tentang pembunuhan masal, penyiksaan, pemerkosaan, dan kekerasan seksual lainnya, penculikan, serta tuntutan tebusan setelah RSF mengambil alih beberapa daerah. Ada juga berita tentang eksekusi ringkas terhadap beberapa relawan Bulan Sabit Merah. Puluhan ribu masih terjebak dan kelaparan di dalam el-Fasher, dan keberadaan banyak yang kabur masih jadi misteri. Video-video mengerikan dan kesaksian saksi menggambarkan tubuh di jalan-jalan dan warga sipil yang terbunuh di serangan.
Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terintegrasi (IPC) udah ngangkat status kelaparan di el-Fasher dan Kadugli di Kordofan Selatan dan memperingatkan bahwa banyak daerah lainnya di Darfur dan Kordofan berisiko jatuh ke dalam kelaparan. Perkiraan menunjukkan sekitar 375.000 orang udah hidup di kondisi kelaparan di wilayah itu sejak September, dan sekitar 6,3 juta di seluruh Sudan menghadapi kelaparan ekstrem dan berisiko terjerumus ke kelaparan tanpa gencatan senjata dan akses kemanusiaan yang aman.
Banyak orang Sudan yang mengungsi udah pindah ke kota-kota kayak al-Dabbah di Negara Bagian Utara, tapi rasa takut akan pengungsian lebih lanjut selalu ada. Para penyintas menggambarkan pemandangan kehancuran: tubuh mati di jalanan, keluarga yang terpisah, dan warga sipil ditembak saat berusaha melarikan diri. Seorang pria yang kabur bareng anak-anaknya bilang dia kehilangan istrinya karena serangan drone dan denger pejuang teriak untuk “bunuh semuanya.”
Mahkamah Pidana Internasional udah mulai menyelidiki dugaan kejahatan perang oleh RSF yang terkait dengan peristiwa terbaru di el-Fasher, bilangnya mereka bakal ambil langkah untuk menjaga bukti untuk penuntutan di masa depan. ICC nyatain bahwa kejahatan yang dilaporkan bisa termasuk serangan yang ditargetkan secara etnis, kekerasan seksual yang dijadikan senjata, penculikan, serangan sembarangan terhadap warga sipil, dan serangan terhadap fasilitas medis.
Semoga Allah memberikan keselamatan dan kesabaran kepada para pengungsi, memberikan bantuan kepada yang kelaparan, melindungi yang tak bersalah, dan membimbing mereka yang bisa membantu untuk mengirimkan bantuan dengan cepat dan aman. Tolong ingat orang-orang Sudan dalam do'a kalian.
https://www.aljazeera.com/news