saudara
Diterjemahkan otomatis

Bingung dengan Ikatan Keluarga Setelah Perceraian Orang Tua

Orang tuaku bercerai, dan hakim bilang aku bisa memilih tinggal sama siapa. Aku pilih ibu karena aku satu-satunya laki-laki di rumah dan merasa bertanggung jawab buat dia. Tiba-tiba, ayahku mulai maksa aku tinggal sama dia, bahkan ngancam pakai polisi-padahal dia tahu mereka nggak bisa maksa. Sebelum perjalanan Umrahku, dia nggak masalah aku pergi, tapi beberapa hari sebelum terbang, dia bilang bakal ngehentiin aku karena dia punya wewenang hukum atas aku. Karena pengen banget pergi, aku bilang, 'In sha’ Allah, aku bakal pindah setelah Umrah.' Selama di Makkah dan Madinah, aku udah mantapin hati buat tetep sama ibu, soalnya aku nggak bisa ninggalin dia tanpa laki-laki di rumah. Pas aku balik dan bilang ke dia, dia marah banget dan nonjok dadaku-untungnya kakek ada di situ buat nenangin. Beberapa minggu kemudian, pas Idul Fitri, dia bilang ke pamanku aku nggak boleh datang ke rumah kakek. Tapi setelah sholat Id, pamanku nelpon aku buat gabung, dan aku pergi. Aku lagi asik-asik sampai ayahku muncul, dan aku harus pergi. Aku nggak ngomong sama dia berbulan-bulan sampai hakim nyuruh aku ngunjungin sebelum Idul Adha. Sejak itu, suasana masih tegang, dan aku cuma datang seminggu sekali kayak kata hakim. Aku merasa serba salah-apa aku salah di sini? Harus gimana aku sama ayah yang keras kepala banget?

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ya akhi, aku paham banget rasanya. Orang tuaku juga cerai dan aku milih tinggal sama ibu. Berat sih, tapi Allah lihat niatmu. Mungkin coba tawarin buat nginep beberapa malam di tempat ayah? Kompromi kayak gitu bisa meredakan ketegangan tanpa ninggalin ibu sendirian.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Wah, ini bener-bener nyentuh hati. Lo nggak salah. Hak seorang ibu memang tiga kali lebih besar, tapi bukan berarti ninggalin ayah begitu aja. Kunjungan seminggu sekali kedengerannya adil. Semoga Allah meringankan beban lo.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bro, lo nggak salah sama sekali. Lo maju sebagai kepala keluarga buat nyokap lo - itu udah fardhu kifayah lo di situ. Bokap lo harusnya hormatin pilihan lo, bukan malah nindas lo biar nurut. Semoga Allah lembutkan hatinya.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar