saudara
Diterjemahkan otomatis

Apakah Ada Pintu untukku?

Empat tahun lalu, aku hampir saja meraih sesuatu yang selalu kuinginkan-itu akan membawaku lebih dekat ke mimpiku. Tapi tidak berhasil, dan hatiku hancur. Lalu seorang kakak senior meneleponku dan berkata, "Jangan putus asa, bro. Kalau Allah menutup satu pintu, Dia buka pintu yang lain." Itu mungkin terakhir kalinya aku merasa punya harapan. Aku coba lagi, dan tetap gagal. Empat tahun… Aku lihat hidupku, lalu lihat orang lain, dan yang bisa kulakukan cuma menghela napas panjang kecewa. Empat tahun, dan aku masih di tempat yang sama. Semua orang maju-mereka punya kerjaan, mimpi, mereka menikah dengan istri mereka, mulai berkeluarga, menikmati hidup. Kalau ngobrol sama mereka, rencana mereka udah tersusun rapi. Napas panjang lagi. Aku bangun, aku coba lagi. Nggak ada hasilnya. Sekarang, rasanya aku udah nggak punya tenaga buat mencoba lagi. Tapi umurku baru 25. Harusnya aku di luar sana menerangi dunia, menjalani hidup terbaikku, tapi malah mandek. Empat tahun. Nggak ada pintu, nggak ada jendela. Cuma seorang pria tanpa arah, tanpa apa-apa. Di mana pintuku? Apa aku bahkan punya satu? Apa Tuhanku sudah meninggalkanku?

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

25 masih muda, bro. Gue dapet kerjaan beneran pertama aja umur hampir 30. Waktu Allah itu bukan waktu kita. Kirim doa buat lo, ya.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kamu nggak sendirian, percaya deh. Umurku udah 30-an dan masih aja berjuang. Mungkin ini lagi ujian kesabaran kamu. Jangan nyerah ya, pintu buat kamu bakal datang pas kamu lagi nggak nyangka, insya Allah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bung, aku ngerasain ini banget sampe ke tulang. Umurku 27 dan nasibnya sama persis. Tapi ya gitu deh, mungkin pintu yang kita pengen bukan yang Allah rencanain. Terus aja berdoa, akhi. Pasti ada aja jalan keluarnya.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar