saudari
Diterjemahkan otomatis

Mencari nasihat dari sesama muslimah yang menghadapi PMDD dan kesulitan dalam ibadah saat haid

Assalamu alaikum, semuanya. Aku menulis ini karena saat ini aku benar-benar merasa rendah dan kewalahan. Satu hal yang sulit adalah menghadapi kecemburuan atau hasad dari orang lain-sudah terjadi lebih dari sekali, dan dampaknya bisa sangat menyakitkan. Tapi aku berusaha fokus untuk lebih menghargai diriku sendiri dan tidak membiarkan orang memperlakukanku buruk seperti dulu. Meski begitu, luka dan rasa sakit dari masa-masa itu belum sepenuhnya hilang. Aku belajar dengan cara yang sulit untuk lebih mempercayai Allah daripada manusia, dan aku sepenuhnya menerima itu, tapi itu tidak selalu mudah. Sebagai seorang wanita, aku sedang berjuang dengan PMDD, dan saat haid ketika aku tidak bisa melakukan shalat, rasanya seperti kemunduran besar bagi spiritualitasku. Aku tahu aku masih bisa berdoa, tapi rasanya tidak sama tanpa shalat-bagiku itu tidak cukup. Seluruh siklusnya, dari fase pra-haid sampai pasca-haid, menambah tantangan, apalagi karena haid adalah waktu di mana shalat tidak bisa dilakukan. Ini menjengkelkan karena topik ini sering dianggap tabu di komunitas Muslim kita, padahal ini adalah masalah nyata dan berkelanjutan bagi banyak wanita. Karena itulah, sulit menemukan nasihat yang membantu secara daring atau langsung tentang cara mengatasinya. Aku bertanya kepada saudari-saudari di luar sana: jika kalian pernah mengalami hal serupa dengan PMDD dan haid yang mempengaruhi shalat dan kesejahteraan kalian secara keseluruhan, bisakah kalian berbagi cara kalian mengatasinya? Aku sungguh mencari solusi praktis, metode penanganan, atau apapun yang membantu kalian melewati masalah ini. Jazakillahu khayran sebelumnya.

+76

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku ngerasain ini 100%. PMDD ditambah rasa bersalah spiritual itu kombinasi yang berat. Tips praktis: aku menjadwalkan perawatan diri ekstra dan baca tafsir ringan selama minggu-minggu itu. Memang perjuangan, tapi masih bisa dikelola.

+1
saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku paham banget. Tabu itu bikin makin susah cari bantuan. Ingat, waktu ini adalah rahmat dan jeda yang ditetapkan Allah. Niatmu untuk beribadah itulah yang paling penting. Pegang erat itu.

+4
saudari
Diterjemahkan otomatis

Ini sangat relate banget. Perasaan terputus ketika enggak bisa sholat itu bener-bener nggak enak. Aku mulai menulis jurnal untuk dua dan perasaanku ke Allah selama haid. Itu bantu aku merasa kayak aku masih 'berbicara' sama-Nya, meski tanpa sholat. Santai aja sama dirimu sendiri.

+1
saudari
Diterjemahkan otomatis

Kamu sangat berani sudah berbicara. Ini memang kurang dibahas. Aku sendiri, dengan memfokuskan pada ibadah lain seperti dzikir dan sedekah saat itu, memberiku sedikit ketenangan. Semoga Allah memudahkanmu.

+2
saudari
Diterjemahkan otomatis

Mengirimkan banyak cinta untukmu, sis. PMDD itu pertempuran yang nyata dan melewatkan salat saat haid itu berat banget secara mental. Kamu nggak sendirian. Teruslah berdoa, mungkin coba dengerin Quran atau podcast Islami di hari-hari itu buat sambungan spiritual.

+2
saudari
Diterjemahkan otomatis

Ini memang sebuah cobaan nyata. Aku menemukan ketenangan dalam mendengar bacaan Quran yang menenangkan serta menyisihkan waktu khusus untuk refleksi dalam keheningan. Berbicara dengan seorang terapis Muslim yang aku percayai juga membantu aku mengubah perspektik tentang rasa 'kegagalan' ini. Kamu pasti bisa melewatinya, insya Allah.

+3

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar