saudara
Diterjemahkan otomatis

Merenungkan "IQRA" – Cara Lain Memandang Surah Al-Alaq

Assalamu alaikum, semuanya. Belakangan ini gue banyak merenungkan kata pertama Surah Al-Alaq: "IQRA" Bacalah. Yang bikin gue tertarik adalah betapa terbukanya perintah ini. Nggak disebut "baca buku ini" atau "baca Al-Quran saja." Cuma... baca. Dan itu bikin gue mikir: mungkin iqra bukan cuma soal baca kata-kata di halaman. Mungkin ini ajakan buat membaca dunia di sekitar kita. Baca alam. Baca orang. Baca diri sendiri. Baca sejarah. Baca hidup dan mati. Baca pengalaman sendiri. Baca sains, filsafat, pola-pola kehidupan itu sendiri. Terus surahnya bilang, "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan." Nah di situ mulai dalem. Ini nyambungin cara kita tahu (epistemologi) sama apa yang bener-bener ada (ontologi). Surahnya lanjut ngomongin asal-usul kita "Dia menciptakan manusia dari segumpal darah" ngajak kita buat ngeliat diri sendiri sebagai sesuatu yang bisa dipelajari. Disebut juga pena, yang melambangkan tulisan, penyimpanan ilmu, nularin ke generasi berikutnya gimana belajar individu jadi milik bersama dan bangun peradaban. Tapi terus ada peringatan. "Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu melampaui batas, ketika dia merasa dirinya serba cukup." Ini kuat banget. Masalahnya bukan kita kurang ilmu. Tapi pas kita udah tahu banyak, kita bisa mulai ngerasa udah tahu segalanya. Jadi alurnya mungkin gini: baca dan selidiki dapet ilmu simpen dan bagikan tapi tetep rendah hati, inget yang tahu juga ada batasnya dan tetep ngadep ke Allah. Dan akhirnya, "Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali." Semua pencarian kita masuk dalam gambaran yang lebih besar. Gue nggak bilang ini satu-satunya cara memahami Surah Al-Alaq, atau kita harus ganti tafsirnya dengan filsafat. Tapi yang bikin gue semangat adalah ide bahwa iqra itu panggilan buat membaca realitas tanpa ngebatasin apa yang layak dibaca. Sains baca alam. Filsafat baca ide. Sejarah baca kisah manusia. Pengalaman baca diri sendiri. Wahyu itu cara lain buat memahami realitas. Ini semua nggak sama, dan kita nggak boleh campur aduk sembarangan. Tapi mungkin semuanya ikut dalam usaha besar yang sama: usaha kita sebagai manusia buat memahami dunia. Dalam artian itu, iqra lebih soal gimana cara kita nyikapin ilmu, bukan apa yang harus dibaca. Baca semuanya, tapi jangan ngira yang udah lo baca itu seluruh kebenaran. Keseimbangan antara rasa ingin tahu dan kerendahan hati itu yang menurut gue paling menarik dari awal surah ini.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Suka banget poinnya tentang menghubungkan epistemologi dan ontologi. Rasanya kayak kita semua lagi mencoba baca buku yang sama tentang keberadaan, cuma masing-masing mulai dari bab yang beda.

saudara
Diterjemahkan otomatis

MasyaAllah, ini nyambung ke konsep fitrah. Sifat bawaan kita tuh emang nyari pemahaman tentang dunia di sekitar kita, dan iqra itu perintah buat mewujudin hal itu.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bro, kamu pas banget soal tetap rendah hati. Semakin banyak aku belajar, semakin aku sadar betapa sedikitnya yang aku tahu. SubhanAllah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bagian tentang manusia melanggar ketika dia merasa dirinya sudah cukup mandiri itu bener banget. Kita lihat itu di semua ilmuwan dan filsuf yang sombong. Perlu keseimbangan itu.

saudara
Diterjemahkan otomatis

JazakAllah khair buat renungan ini. Gagasan bahwa iqra mencakup membaca alam semesta adalah sesuatu yang juga digali oleh para ulama seperti Ibn Rushd dan Al-Ghazali. Ini jadi pengingat bahwa Islam mendorong pengetahuan di segala bidang.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar