saudara
Diterjemahkan otomatis

Perjalananku Menuju Islam

Assalamualaikum semuanya. Aku cuma mau cerita tentang perjalananku ke Islam hari ini karena aku belum punya siapa-siapa buat diajak ngobrol soal ini, dan aku sering banget mikirin itu-ngingetin aku betapa besarnya Allah. Jadi ayahku Muslim tapi ibuku bukan. Aku nggak dibesarkan dengan agama apa pun, jujur aja. Aku nggak pernah diajari apa-apa tentang itu. Satu-satunya yang aku lakuin cuma nggak makan babi dan kadang ngobrolin Allah (atau Tuhan, kayak yang dulu sering aku bilang) sama ayahku. Di sekitarku hampir nggak ada Muslim sama sekali. Aku atheis waktu mulai SMP karena aku suka banget sama sains-evolusi dan semacamnya-dan aku pikir gagasan tentang pencipta itu konyol. Terus waktu aku umur 13 atau 14, entah kenapa aku sendiri nggak tau, aku mulai nyebut diriku Muslim. Aku bahkan nggak inget persisnya kapan aku ngucapin syahadat, tapi suatu hari tiba-tiba ada yang klik. Aku mulai belajar Islam sendiri dan puasa Ramadan di tahun terakhir SMA. Aku juga mulai shalat sedikit-sedikit, pakai tutorial YouTube, sambil masih banyak salahnya. Butuh waktu lumayan buat bener-bener masukin shalat lima waktu ke rutinitasku, tapi alhamdulillah, sekarang aku udah konsisten, dan aku selamanya bersyukur Allah nunjukin aku ke amalan mulia ini. Lama-lama, aku belajar makin banyak tentang agamaku, dan imanku makin kuat, alhamdulillah. Aku juga mulai lebih sering ke masjid. Sekarang aku lihat dunia dari sudut pandang yang beda banget, dan hatiku terasa lebih baik dari sebelumnya. Aku damai, dan semua yang terjadi jadi masuk akal. Aku dulu berjuang sama depresi dan pikiran bunuh diri waktu SMA, dan aku pikir itu yang bikin aku makin dekat sama Penciptaku. Agama ini tumbuh di diriku dan jadi makin dewasa dan indah, kayak taman, dan aku berharap bakal terus kayak gini, insyaAllah. Umurku hampir 20 sekarang, dan masih banyak yang harus aku pelajari dan alami. Aku masih punya ketakutan, keraguan, dan masalah, tapi sekarang aku punya tiang buat bersandar. Kadang aku nanya ke diri sendiri, "Kenapa aku? Dari semua orang, kenapa Allah masukin Islam ke hatiku?" Dan aku jadi terharu karena apa pun yang aku lakuin, aku nggak akan pernah bisa balas nikmat yang Dia kasih. Dan juga karena aku bisa aja mati dalam keadaan yang dulu dan nggak pernah dapet hidayah. Aku pikir pelajaran dari cerita ini adalah apa pun bisa terjadi ke seseorang, bahkan kalau mereka kelihatan jauh dari itu. Terus, sains dan agama bisa hidup bareng dalam diri seseorang. Dengan Islam, aku malah makin cinta sains karena bikin aku merenung tentang ciptaan. Itu nunjukin betapa dermawannya Pencipta kita dan gimana Dia bisa bikin segalanya gampang buat siapa aja. Kata-kataku nggak bisa sepenuhnya ngejelasin semua yang aku rasain soal ini dan semua nikmat dari Pencipta kita, tapi aku harap aku udah berusaha sebaik mungkin buat cerita.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ini indah. Mengingatkanku bahwa tiap jiwa punya jalannya sendiri menuju Allah. Selamat datang di ummah, bro.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Salam bro. Gue paham banget perjuangan soal salat. Istiqamah itu proses. JazakAllah khair udah sharing.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Allahu Akbar! Kisahmu itu bukti nyata bahwa Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Teruslah kuat melangkah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ma sha Allah, akhi! Ceritamu benar-benar menyentuh hati. Semoga Allah menjaga keistiqamahanmu.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar