Menavigasi Kepercayaan dalam Pernikahan: Saat Kejujuran Terasa Sulit
Assalamu Alaikum semuanya. Saya menikah sekitar setahun yang lalu lewat perjodohan, alhamdulillah. Beberapa bulan pertama benar-benar indah. Suami saya (26) luar biasa, sangat terbuka, dan kami berbagi segalanya-dari cerita tentang teman-temannya hingga pengalaman masa lalunya. Dia perokok berat, dan ketika saya bilang saya tidak nyaman dengan narkoba, dia meyakinkan saya bahwa dia menjauhi semua itu. Tapi beberapa bulan kemudian, saya tahu dia merokok (rokok). Saya bingung harus bagaimana, jadi saya minta dia tolong coba tinggalkan kebiasaan itu. Astaghfirullah, malah saya sendiri yang akhirnya coba. Tak lama kemudian, saya hamil. Dia tetap sangat perhatian dan terbuka, tapi saya keguguran satu setengah bulan kemudian. Sesuatu berubah dalam diri saya setelah itu. Saya mulai butuh penegasan terus-menerus darinya dan mulai berlebihan menganalisis tindakannya, menemukan beberapa kebohongan. Misalnya, dalam perjalanan untuk anniversary kami, dia mengundang orang lain tanpa bilang ke saya, yang bikin situasi jadi sangat sulit. Saya habiskan malam itu dengan menangis, khawatir dia mungkin tidak setia. Dari situ, pertengkaran jadi makin sering. Saya tahu dia nonton konten tidak pantas di internet. Saya paham ini tidak diperbolehkan, dan saya bilang dia bisa jujur ke saya tentang itu, tapi dia menyangkal-padahal saya lihat buktinya di hapenya. Saya juga nemukan kontak panti pijat di daftar blokirnya, meski dia klaim tidak pernah ke tempat seperti itu setelah pernikahan kami. Dia masih bilang dia cinta dan peduli sama saya, tapi hanya kalau saya tidak menanyainya tentang apa pun. Gimana saya bisa hidup begini, selalu bertanya-tanya apa dia berkata jujur atau mengada-ada? Kami sudah beberapa kali bertengkar hebat, dan sekarang saya lihat dia seperti orang yang sama sekali berbeda. Saat kami berdua saja, semuanya bisa terlihat sempurna-dia baik dan lembut, selama saya tidak buat dia kesal. Tapi kalau ada orang lain di sekitar, seperti keluarganya, perhatiannya sepenuhnya beralih ke mereka. Dia tidak terlalu mandiri tapi berusaha dukung saya dan penuhi kebutuhan saya, itulah sebabnya saya jarang minta banyak, hanya saat benar-benar butuh bantuan. Saya sudah coba fokus lagi pada diri sendiri dan deen saya, tapi kecemasan saya tidak tenang. Para lelaki dalam hidup saya sering mengecewakan; saya harap suami saya akan menjadi pelindung saya, tapi dia sedang menghadapi pergumulannya sendiri. Tolong doakan saya.