saudara
Diterjemahkan otomatis

Perjalananku dari mengikuti Kekristenan hingga memeluk Islam

Selama lima belas tahun, hidupku berputar di sekitar Salib. Aku tumbuh di keluarga Baptis yang taat di Kenya ini, di mana hari Minggu berarti nyanyian pujian, makan bersama setelah ibadah, dan bangku kayu tua yang sudah digunakan keluargaku turun-temurun. Iman pribadiku-Yesus adalah juruselamatku, dan konsep Tritunggal adalah landasanku. Aku tak pernah menyangka akan meninggalkan itu semua. Semua bermula dari sebuah pertanyaan yang mengendap di pikiranku. Saat tahun kedua kuliah, teman sekamaranku, Amir, menjalankan puasa Ramadan. Aku memperhatikannya bangun sebelum subuh untuk makan sahur, menyantap hidangan sederhana, lalu tidak makan atau minum apa pun sampai matahari terbenam. Ketika kutanyakan mengapa dia melakukannya, dia menjawab, "Untuk merasakan lapar mereka yang kurang beruntung dan menyucikan hati." Aku mengagumi dedikasinya, tapi berpikir, Itu bukan jalanku. Namun, rasa penasaranku terus tumbuh. Aku meminjam terjemahan Al-Qur’an bahasa Inggrisnya. Membaca Surah Maryam benar-benar menyentuhku. Ada Maryam-diagungkan di atas semua wanita, dikunjungi malaikat, diberi Isa sebagai rahmat dari Allah. Dia tidak direndahkan; dia dimuliakan. Dan Isa, yang dikenal sebagai Al-Masih, terlahir dari seorang perawan, menyembuhkan orang buta, dan membangkitkan orang mati dengan izin Allah. Tapi dia bukan anak Allah-dia adalah nabi kekasih Allah. Ayat "Katakanlah: 'Janganlah kamu mengatakan tiga'... Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa" (4:171) terus terngiang berminggu-minggu. Aku dibesarkan dengan percaya pada "Allah dalam tiga pribadi." Tapi semakin dewasa, konsep ini semakin mengusik hatiku. Jika Allah benar-benar Esa-tak terbagi, Mahakuasa, tak butuh sekutu atau anak-lalu mengapa menambahi-Nya? Aku mulai mengucapkan Syahadat dengan lirih dalam hati: "La ilaha illa Allah." Tiada tuhan selain Allah. Bagian tersulit adalah mendamaikan cintaku pada Yesus. Aku tak ingin kehilangan dia. Lalu kusadari: dalam Islam, aku tidak kehilangan dia. Aku menemukannya kembali-sebagai nabi, tanda, ruh dari Allah, tapi bukan sebagai Allah sendiri. Perbedaan yang dulu kutakuti itu justru menjadi sumber kebebasan. Aku bisa mencintai Yesus tanpa mengorbankan keesaan mutlak Allah. Suatu malam, setelah berbulan-bulan membaca, merenung, dan banyak momen sendu dalam kesendirian, aku pergi ke masjid setempat. Aku duduk di belakang, mendengarkan Adzan-panggilan sholat. Setelah sholat Isya, imam memerhatikanku. Dengan ragu, kusampaikan, "Saya rasa... saya rasa saya ingin mengucapkan Syahadat." Dia tersenyum lembut dan berkata, "Saudara, engkau tidak mengucapkannya karena engkau rasa. Engkau mengucapkannya karena engkau tahu." Dan aku tahu. Malam itu, dengan hanya dia dan Allah sebagai saksi, kuucapkan kalimat itu dalam bahasa Arab, lalu bahasa Inggris: "Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan-Nya." Sesuatu terbuka di dalam diriku. Ini bukan tentang menolak masa lalu-ini terasa seperti penyempurnaan. Bertahun-tahun mencintai Tuhan, menundukkan kepala di gereja-akhirnya aku bersujud sepenuhnya, dahi menyentuh tanah dalam sujud, menyatakan: Allah semata. Tiada perantara. Tiada pembagian. Hanya Allah. Ibuku menangis ketika kuberitahu. Dia bertanya, "Apakah kamu masih percaya Yesus mati untuk dosa-dosamu?" Kujawab, "Aku percaya Yesus adalah nabi yang menunjuk kita pada Allah. Dan Allah begitu Maha Pengasih sehingga Dia menyelamatkan siapa pun yang berpaling hanya pada-Nya." Dia tidak memahami pilihanku dan memutuskan tidak berbicara denganku selama beberapa hari. Pada akhirnya, keluargaku menyuruhku pergi dari rumah karena mereka tidak bisa hidup bersama seorang Muslim di bawah satu atap. Sekarang, Alhamdulillah, aku sholat lima waktu. Aku berpuasa di bulan Ramadan. Aku membaca Alkitab dan Al-Qur’an dengan hormat. Tapi saat ini aku tidak punya tempat tinggal, dan terkadang sangat sulit mencari makanan, karena mencari pekerjaan di sini memang sulit. Alhamdulillah untuk segalanya. Segala puji hanya milik Allah, Yang Maha Pengasih.

+82

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ini memberiku harapan. Keluarga bisa jadi ujian yang paling berat. Tetap kuat, kakak.

+4
saudara
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah. Kata-kata imam "kamu mengatakannya karena kamu tahu" membuatku merinding. Kuat banget.

+2
saudara
Diterjemahkan otomatis

Selamat datang, saudara. Kisahmu mengingatkanku pada banyak mualaf. Momen ketika akhirnya mengetahui segalanya itu sungguh berarti.

+1
saudara
Diterjemahkan otomatis

Alhamdulillah! Bagian tentang Yesus bukan tersesat tapi ditemukan sebagai seorang nabi... persis seperti itu.

+2
saudara
Diterjemahkan otomatis

Menyedihkan mendengar tentang keluargamu, tapi imanmu kuat. Insya Allah semuanya akan lebih mudah.

+1
saudara
Diterjemahkan otomatis

Keikhlasanmu begitu nyata. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan membukakan pintu-pintu untukmu.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar