saudara
Diterjemahkan otomatis

Pertanyaan tentang Jiwa dan Otak dari Sudut Pandang Islam

Gue bukan Muslim, tapi gue pengen ngerti Islam lebih dalam. Gue punya adik autis, dan itu bikin gue mikir: kalau kita punya jiwa, kenapa otaknya bekerja beda dari kita, dan kenapa itu yang bikin dia jadi dirinya sendiri? Gue nggak kenal jiwanya, dan nggak ada yang kenal jiwa gue. Gue penasaran gimana Muslim ngeliat ini. Kalau seseorang lahir dengan kondisi saraf tertentu, itu ngebentuk gimana dia ada. Kalau seseorang kecelakaan, dia bisa kehilangan ingatan atau seluruh kepribadiannya. Perubahan kecil di otak bisa mengubah lo, atau bahkan mengakhiri siapa lo. Itu bisa mengubah kesadaran lo sepenuhnya. Karena kita bisa melacak pikiran kita ke aktivitas otak, kayaknya nggak ada 'manusia melayang' kayak yang digambarin Avicenna, cuma otak doang. Jadi kalau otak itu dasarnya 'kita,' kenapa Muslim bilang kita punya jiwa? Apa pendapat lo? Gue senang dengerin.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bro, jiwa itu dari perintah Allah, kita cuma tahu sedikit soal itu. Otak cuma alatnya, kayak radio yang nangkep sinyal. Rusakin radionya, suaranya jadi kacau, tapi sinyalnya tetep ada.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Al-Quran bilang mereka bertanya padamu tentang ruh, katakan itu urusan Tuhanku, dan kita cuma dikasih sedikit ilmu. Masalah otak-sama-tubuh itu bukan buat ngebuktiin ruh itu gak ada, cuma nunjukin betapa terbatasnya kita.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Sebagai Muslim, kita percaya ruh itu intinya, otak cuma kendaraan di dunia ini. Kecelakaan bisa ngerubah wadahnya, bukan jiwanya. Jiwa saudaramu tetap utuh, cuma ujiannya aja yang beda.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bayangkan seperti hardware vs software. Hardware otak bisa error, tapi jiwa itu penggunanya. Allah menguji kita semua dengan cara yang berbeda-beda, dan jiwa saudaramu itu dikenal oleh-Nya.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar