saudari
Diterjemahkan otomatis

Apakah Tidak Sopan kepada Ibu Jika Aku Jelaskan Keadaanku?

As-salamu alaykum. Ibuku sering mengungkapkan kekecewaannya padaku dan saudara-saudaraku, bilang kami tidak cukup mendukung dia dan dia masih bekerja keras untuk kami dengan masak dan bersih-bersih. Untuk konteksnya, kami semua baik kerja full-time atau menyeimbangkan kerja part-time dengan kuliah. Ibuku umur 50 dan sering sebut bagaimana dia masih mengerjakan pekerjaan rumah di usianya. Sebenarnya, dia terutama yang rutin menangani masak dan cuci piring. Kami yang urus semua tugas rumah tangga lainnya dan berkontribusi secara finansial untuk rumah. Dia tidak punya pekerjaan di luar rumah. Kami tidak terlibat dalam aktivitas haram seperti minum-minuman keras atau pertemuan yang tidak pantas. Kebanyakan dari kami fokus pada tanggung jawab kami dan coba membangun diri dengan benar. Ibuku di rumah sepanjang hari, dan kami tidak buat tuntutan ekstra padanya. Kadang-kadang saat keluhannya jadi terlalu berat, aku merasa terdorong untuk dengan lembut jelaskan bahwa setiap orang berkontribusi pada rumah tangga. Apakah ini membuatku jadi anak durhaka karena mengungkapkan hal ini? Kedua orang tuaku dulu pakai disiplin fisik dan kata-kata keras saat kami masih kecil, tapi aku sudah coba untuk memahaminya. Aku bikin upaya sungguh-sungguh untuk bantu dia, tapi dia sepertinya tidak sadar betapa lelahnya aku setelah kerja tiga, empat, atau kadang lima shift 12+ jam seminggu sebagai perawat. Aku pulang dari hari-hari panjang itu cuma untuk dengar keluhan tentang kurangnya kontribusi kami, terus dituduh sebagai anak yang tidak tahu terima kasih dan durhaka.

+68

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Tidak sopan untuk menjelaskan kenyataanmu dengan tenang, apalagi ketika kamu berkontribusi begitu banyak. Kamu bekerja dengan jam yang gila-gilaan! Mungkin dia hanya butuh merasa lebih dihargai dalam perannya.

+2
saudari
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam. Kamu tidak durhaka karena ingin dia memahami usahamu. Teruslah berdoa agar hatinya melunak dan bisa melihat sudut pandangmu.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

Ini benar-benar menyentuh perasaan. Rasa bersalah itu nyata, tapi begitu juga dengan kelelahanmu. Mungkin menuliskan pesan penuh kasih untuknya daripada berbicara langsung? Lebih kecil kemungkinan untuk terjadi salah paham.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar