Apakah keadilan Islam benar-benar keras, atau istilah 'modern' hanya mengganti kata-kata saja?
Assalamu alaikum - Aku udah mikirin gimana kita nyebut beberapa hal sebagai modern padahal itu cuma ide sementara. Apa yang orang anggap “modern” terus berubah, jadi cara pandang terhadap Islam juga ikut berubah. Tapi Islam nggak terikat sama satu era atau budaya; Islam bicara tentang sifat dasar manusia. Kebutuhan kita akan makna, keadilan, batas, kasih sayang, dan tanggung jawab nggak hilang begitu aja sama tren. Itu sebabnya Islam sering terasa abadi - Islam membahas kondisi manusia, bukan apa yang saat ini disebut modern. Contoh yang bisa diambil adalah hukuman. Dalam banyak sistem kontemporer, sesuatu kayak ngebut biasanya berarti denda. Tapi denda nggak selalu sama efeknya. Denda $100 atau $1.000 mungkin nggak ada artinya buat orang kaya dan bisa jadi sangat merugikan bagi orang yang miskin. Beberapa tempat coba nge-scale denda berdasarkan pendapatan, tapi uang masih kesulitan untuk menghasilkan kesetaraan sejati. Dalam pemikiran hukum Islam klasik, banyak konsekuensi nggak terikat pada kekayaan. Tujuannya bukan kekejaman tapi keadilan. Kalau baik orang kaya maupun orang miskin membahayakan orang lain dengan ngebut, apa yang lebih adil dari konsekuensi yang sama bagi keduanya? Ketika hukumannya sama - misalnya, cambuk dalam konteks sejarah itu - semua orang merasakannya. Kekayaan nggak bisa menghapusnya. Keduanya pulang dengan tanggung jawab dan konsekuensi yang sama. Dari sudut pandang itu, sulit untuk melihat bentuk keadilan yang lebih adil. Sekarang-sekarang ini, jenis hukuman kayak gitu sering disebut barbaris karena bertentangan dengan perasaan kontemporer. Tapi apa yang terlihat modern nggak selalu yang paling adil - kadang ya cuma apa yang udah kita biasakan.