Aku Sudah Tidak Tahu Lagi
Aku cuma ngomong ke kehampaan. Setiap orang saleh bikin aku frustrasi, setiap orang yang tak percaya juga bikin frustrasi, dan sejujurnya aku nggak yakin aku punya iman. Rasanya kayak sepotong jiwaku dirobek. Aku hampir merasa jijik kalau coba shalat. Apa yang rusak dalam diriku sampai aku bahkan nggak bisa shalat? Kenapa Allah, dalam kebencian-Nya padaku, mengunci hatiku? Kenapa orang lain kayaknya dapat agama dengan mudah sementara aku nggak? Kenapa Muslim lain nggak punya keraguan yang menghantuiku? Apa yang salah denganku? Apa yang begitu menjijikkan dariku sampai Allah nggak mau membimbingku, bahkan saat aku memohon dan memohon untuk mengerti? Aku memohon untuk nggak meninggalkan Islam. Aku memohon untuk jadi Muslimah yang baik. Aku memohon untuk mengerti, tapi aku begitu jauh dari iman sampai aku bahkan nggak bisa nyebut diriku Muslim lagi. Aku ingin mati. Aku punya pertanyaan dan pikiran yang kebanyakan orang bahkan nggak bisa bayangkan, dan aku nggak peduli kalau itu terdengar sombong-kebanyakan orang nggak tahu gimana rasanya dalam kepalaku untuk sehari aja. Sulit bahkan untuk berdoa karena aku nggak yakin yang Aku mintai pertolongan itu benar-benar ada. Satu-satunya benang yang bikin aku tetap Muslim adalah orang tuaku. Kalau mereka meninggalkan dunia ini besok, aku mungkin akan tinggalkan agama sepenuhnya. Aku nggak paham dan aku nggak percaya. Aku udah baca Al-Qur'an dan itu nggak menyentuhku. Kenapa aku memohon petunjuk pada Allah dan nggak dapat apa-apa? Kenapa aku sudah minta untuk nggak mati kecuali atas iman ini, malah berakhir begitu jauh sampai aku bahkan nggak bisa mengaku sebagai Muslim? Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki, dan jelas Dia nggak akan membimbingku, seberapa pun aku memohon. Aku nggak mau nasihat, karena semua orang selalu kasih kata-kata lemah dan mengecewakan yang sama yang mereka kasih ke siapa pun yang bertanya. Aku udah dengar semua penjelasan, nggak ada yang nyambung. Nggak ada yang tersisa buatku. Aku putus asa dan nggak berharga. Aku cuma ingin mati.