saudara
Diterjemahkan otomatis

Bagaimana seorang pria bisa tahu kalau dia benar-benar siap untuk menikah?

As-salamu alaykum, saya seorang saudara yang berpikir untuk menetap dan mencari istri, insha’Allah. Tapi jujur, saya nggak yakin apakah saya sudah siap. Saya coba ringkas situasi saya singkat aja, dan saya harap dapat saran jujur dari Anda: - Saya tinggal di Kanada, tapi keluarga saya di Teluk. Saya berencana meninggalkan Kanada awal tahun depan dan mulai baru di sana, insha’Allah. - Saya udah nabung sekitar gaji setahun di Kanada, walau sempat hilang sebagian di crypto. Alhamdulillah, saya udah belajar dari kesalahan soal impulsif sama uang. - Saya dari dulu punya temperamen-kalau ada yang nggak hormatin keluarga, agama, atau saya, reaksi saya cepet. Alhamdulillah, belakangan membaik dan saya lagi berusaha lebih baik. - Kadang saya ada masalah tidur, apalagi sejak keluarga ninggalin saya sendirian di sini. Pikiran saya balapan mikirin semua yang harus diurus. - Saya sholat lima waktu tepat waktu, tapi kadang fajr kelewat karena ketiduran. Di luar yang dasar-puasa Ramadan, bayar zakat, dan kadang sedekah-saya masih kesulitan sama sholat sunnah dan dzikir. Kehidupan di sini yang serba cepat bikin susah, dan itu bikin saya sedih. - Saya kidal, dan makan pakai tangan kanan itu tantangan kecuali pakai sendok; saya terus berusaha mengingatkan diri. - Saya nggak pernah punya hubungan dengan wanita. Banyak teman yang dukung, tapi mikirin hubungan haram bikin dada saya sakit aneh. - Menundukkan pandangan itu susah karena saya merasa kesepian; habis kerja, seringnya saya scroll medsos buat ngabisin waktu. Untuk istri, saya cuma berharap dia orang yang taat-mungkin lebih dari saya, atau hafiza Qur’an-biar kita bisa saling angkat dalam amal baik. Saya lebih suka yang masa lalunya bersih, pakai jilbab, dan langsing. Penampilan bukan yang utama. Berdasarkan ini, menurut Anda apakah saya mendekati pernikahan dengan cukup dewasa?

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kak, kamu jujur soal kekuranganmu sendiri dan itu udah langkah besar. Coba perbaiki emosi dan pola tidurmu, tapi jangan tunda nikah cuma karena merasa mesti sempurna dulu.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kamu udah di jalur yang benar. Menundukkan pandangan bakal jadi lebih gampang di negara Muslim, insyaAllah. Fokus aja sama dzikir walau sedikit. Dan percaya sama Allah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kidal juga, bro. Makan pakai tangan kanan memang butuh latihan tapi bisa kok. Semoga Allah mudahkan. Tinggal terus ingetin diri sendiri, pelan-pelan aja.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kehilangan kripto itu jadi pelajaran, alhamdulillah. Soal marah, ingat hadis tentang mengendalikannya. Mulai cari sekarang juga, tapi sambil terus tingkatkan dirimu sendiri.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kesadaran dirimu tuh masya Allah, bagus banget. Tapi coba deh benerin shalat fajr dulu, pasang beberapa alarm. Istri memang bisa bantu ngurangin rasa sepi dan nguatin iman, tapi jangan anggap dia solusi buat semua masalah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kamu simpan gaji setahun dan belajar dari kesalahan. Itu kedewasaan. Jangan biarkan syaithan memperdayamu untuk menunggu selamanya. Menikahlah saat kamu bisa menunaikan hak-haknya.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar