Dari Sukacita ke Keputusasaan: Hati yang Kacau
As-salamu alaykum. Aku lahir dalam keluarga Muslim tapi kami nggak menjalankan agama. Sekitar setahun yang lalu, aku mulai serius dengan agamaku. Seperti banyak orang yang kembali ke Islam, aku menghadapi kritik dan penilaian dari orang-orang di sekitarku. Aku belajar shalat dan rajin menjaganya. Tapi sekarang aku ada di titik yang sangat gelap. Imanku lemah, dan aku meragukan segalanya-tujuanku, keyakinanku, alasanku untuk hidup. Bagaimana aku kembali ke Islam itu cerita lain. Aku bertemu seorang pria Muslim, jauh lebih muda dariku. Dia tampak berbeda-sangat maskulin, bijaksana melebihi usianya, kuat imannya, jujur, dan suka menolong. Dia punya rasa takut kepada Allah dan nilai-nilai tradisional. Mungkin nggak terlalu lembut dalam memperlakukan istri, tapi aku jatuh cinta dan ingin menikah dengannya. Ada yang bilang aku dicuci otak, mungkin iya, mungkin nggak. Dia membuatku merasa bersalah tentang masa laluku dan bagaimana itu nggak sejalan dengan Islam. Lalu dia bilang dia nggak bisa menikahiku karena hal-hal yang nggak bisa dia terima. Setelah itu, aku kehilangan keinginan untuk hidup, motivasiku, kemandirianku, pekerjaanku, kepribadianku, bahkan hubunganku dengan keluarga. Belakangan ini, aku mikirin kematian. Aku kasihan sama diriku sendiri. Aku paham kenapa sebagian orang ingin mati. Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Nggak ada motivasi untuk move on, melepaskan, memulai lagi, atau bahkan peduli. Aku nggak tahu obatnya. Rasanya Islam bukan jawabannya. Aku ingin kembali ke cara lamaku, tapi itu juga nggak berhasil-aku cuma menyembunyikan kesedihanku. Jalan baru ini juga nggak berhasil. Aku melukai diri sendiri, depresi, kesehatanku buruk, dan pernah dianiaya secara fisik.