saudari
Diterjemahkan otomatis

Merasa sendirian dalam perjalanan imanku di dalam keluargaku

Assalamu Alaikum saudara-saudariku yang kusayangi, Aku menulis ini dengan campuran kesedihan dan harapan. Aku seorang perempuan Muslim muda yang sedang melewati masa sulit kesepian spiritual dan isolasi, dan aku benar-benar butuh nasihat atau sekadar mendengar bahwa orang lain juga pernah mengalami ini. Ini ceritaku: Alhamdulillah, aku baru saja kembali ke Islam dan mulai menunaikan shalat lima waktu. Tapi aku satu-satunya di keluarga intiku yang beribadah. Orang tuaku dan kakak perempuanku tidak shalat, dan sayangnya, obrolan mereka sehari-hari kebanyakan tentang ghibah, menghakimi orang lain, dan berkata negatif tentang orang. Itu menyakiti hatiku setiap hari. Aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri, tidak bisa berbagi kebahagiaan atau perjuangan spiritualku dengan mereka. Beberapa minggu lalu, aku bertemu seorang laki-laki online yang membantuku melihat keindahan Islam dengan lebih jelas. Kami punya percakapan yang dalam dan penuh hormat tentang Nabi kita tercinta (saw) dan iman kami. Dia orang pertama yang bisa kuajak bicara tentang agama tanpa dihakimi. Kami berdua punya niat serius untuk menikah, dan dia sepertinya punya nilai yang sama denganku seperti ingin menikah muda dan bekerja keras. Tapi, beberapa hari lalu, dia mendadak diam. Dia bilang dia sakit dan butuh waktu sendiri. Aku coba kirim pesan tapi tidak dibalas-rasanya seperti dia menghilang. Jadi aku shalat Istikharah dan merasa agak tenang, tapi hatiku masih cemas karena keheningan itu. Demi menjaga kesehatan mentalku dan menghentikan kecemasan menunggu pesan, aku mengambil keputusan berat untuk menghapus dia sepenuhnya. Aku ingin bersandar hanya kepada Allah dan berdiri di atas kakiku sendiri. Sekarang, aku merasa sangat kesepian. Melihat perilaku keluargaku yang kontras sekali dengan hubungan penuh hormat yang kualami membuatku bertanya-tanya: "Kenapa Allah membiarkanku merasakan persahabatan yang indah ini hanya untuk mengambilnya kembali?" Aku bimbang antara: - Percaya bahwa keheningan ini adalah ujian atau perlindungan dari Allah. - Takut bahwa aku mungkin terjebak sendirian di lingkungan ini selamanya. - Bertanya-tanya apakah benar aku memutus kontak sepenuhnya demi menjaga kedamaian. Apakah ada di sini yang menjadi satu-satunya Muslim yang taat di keluarganya? Bagaimana kalian menghadapi kesepian dan rasa sakit melihat orang tersayang melakukan dosa seperti ghibah dan tidak shalat? Dan bagi yang pernah mengalami situasi serupa dengan seseorang yang kamu sayangi lalu tiba-tiba berhenti menghubungi, bagaimana kalian menghadapi penantian itu? Apakah memutus semua kontak membawa kedamaian bagimu? Aku mencari kekuatan spiritual dan nasihat, dan aku ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa Allah cukup bagiku. Nasihat atau doa apa pun sangat berarti bagiku. Jazakum Allahu Khayran.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Salam sister. Aku tahu ini berat tapi kamu sudah melakukan hal yang benar. Jangan kejar orang yang nggak mau komunikasi. Allah itu cukup. Untuk keluargamu, bersabarlah dan tetap baik, mungkin mereka akan berubah pikiran. Hanya Allah yang bisa memberi petunjuk. Peluk.

saudari
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, ceritamu mirip banget sama aku. Aku satu-satunya yang istiqomah dan rasanya kesepian banget. Terus aku ketemu laki-laki yang lebih baik yang nggak pernah diem aja. Jangan mau yang seadanya. Dan keluargamu mungkin bakal berubah lewat doamu. Tetap kuat ya.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ukhti, kamu nggak sendirian. Banyak dari kita punya keluarga yang nggak menjalankan ibadah. Aku merasa tenang dengan Al-Quran dan berteman di masjid. Mungkin kamu bisa ikut kajian akhwat? Dan soal laki-laki itu, percaya sama rencana Allah. Dia melindungimu dari sesuatu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam, ukhti. Aku paham banget gimana perasaanmu. Aku satu-satunya di keluargaku yang shalat dan itu berat banget. Jaga imanmu tetap kuat dan berdoalah untuk mereka. Allah melihat perjuanganmu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Salam. Kamu sudah benar memutuskan dia. Kalau dia mau, dia pasti akan berusaha. Fokus sama hubunganmu dengan Allah dan Dia akan datangkan orang yang tepat di waktu yang tepat. Semoga Allah meringankan rasa sakitmu.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar