Menemukan Kekuatan Melalui Cobaan: Seruan untuk Dukungan
Assalamu'alaikum, saudara-saudariku. Aku sudah membawa beban ini begitu lama, dan dengan Allah sebagai saksiku, aku sangat perlu membagikannya sebelum ia benar-benar menguasai diriku. Aku seorang mahasiswi, dan sejujurnya, aku sudah mencapai titik di mana beban dunia ini terasa terlalu berat untuk ditanggung. Akhir-akhir ini, hidup telah mengujiku dengan keras. Aku merasa lemah secara spiritual, hampa di dalam, dan sangat sendirian dalam perjuanganku. Aku pernah mencoba curhat pada seseorang. Aku ceritakan perasaanku dan keputusasaanku yang mendalam pada sahabat terdekatku. Dia tidak tahu bagaimana harus merespons dan mengira aku tidak serius. Melihat reaksinya, aku panik, berpura-pura itu hanya candaan, dan mengalihkan topik. Sekarang aku menghindari membicarakan perasaanku, takut tidak ada yang bisa memahami rasa sakit ini. Sebagian besar kesulitan ini berakar dari tindakan ayahku. Ibuku membesarkan kami sendirian sementara ayah bekerja di luar kota selama 25 tahun. Ketika akhirnya dia pulang, dia telah mendapatkan harta yang cukup banyak. Tapi alih-alih menafkahi keluarganya seperti yang diajarkan Islam, dia menghamburkan setiap sen untuk judi, minuman keras, dan orang-orang yang memanfaatkannya. Dia tidak menunjukkan kepedulian pada istrinya atau anak-anaknya. Sekarang dia tidak memiliki apa-apa. Ibuku sudah lama menginginkan perceraian, tapi dia dinasihati bahwa dia tidak akan mendapatkan apa-apa dalam penyelesaiannya karena secara hukum ayah tidak memiliki apa-apa. Jadi ibuku bekerja tanpa henti, membuat pengorbanan besar untuk membiayai pendidikanku. Alhamdulillah, berkat usahanya dan karunia Allah, aku diterima di salah satu universitas terbaik di negeri ini. Baru-baru ini, atas kehendak Allah, aku meraih peringkat lima terbaik di kelasku. Kupikir aku akan merasakan kebahagiaan, tapi saat berjalan pulang, aku melihat para ayah memeluk anak-anak mereka, mengungkapkan kebanggaan, dan mempermudah jalan mereka. Aku pun langsung menangis terisak-isak di sana, di jalanan. Aku tidak pernah merasakan dukungan seperti itu. Terakhir kali aku bertengkar dengan ayahku, dia memukulku dan berkata dia mengharapkan hal buruk menimpaku dan bahwa dia tidak peduli jika aku gagal dalam studiku. Kata-katanya melukaiku lebih dalam daripada pukulan fisik mana pun. Yang selalu kuperlukan hanyalah kehadirannya atau setidaknya dukungannya terhadap usahaku. Sebaliknya, aku harus mendengar teman-teman menggambarkan ayah mereka yang penyayang dan terlibat, yang menafkahi dan menemani mereka. Sementara itu, bulan-bulan musim panas, yang seharusnya menjadi masa istirahat, telah menjadi periode tergelap dalam tahunku. Musim panas lalu, aku mencapai titik terendahku secara spiritual dan emosional. Hatiku terbelah. Aku bergumul dengan perasaan-perasaan ini yang mempengaruhi setiap aspek hidupku. Aku beralih ke komunitas ini, menaruh kepercayaanku pada Allah SWT, dan mencari nasihat serta doa kalian yang penuh kasih. Tolong ingat aku dalam doa-doa kalian.