Menemukan kedamaian melalui salat meskipun menghadapi tantangan kesehatan mental
Assalamu alaykum. Aku sedang berhadapan dengan depresi kronis dan kecemasan yang sudah aku perjuangkan selama satu dekade ini. Salah satu tantangan terbesar yang aku hadapi adalah membangun rutinitas salat yang konsisten – aku merasa sangat menyesali semua tahun-tahun yang terlewatkan, padahal hanya salat lima waktu. Aku tumbuh di rumah yang tidak terbiasa salat secara teratur, dan kadang aku berharap ada yang mendorongku sehingga rasanya lebih seperti kebiasaan alami sekarang. Meskipun aku selalu percaya pada Islam dan berusaha tetap di jalan yang benar, depresi ini disertai anhedonia – datang dan perginya tak terduga. Aku minum obat dan berusaha mengelolanya, tapi ada sekitar empat tahun di mana aku hampir berhenti berfungsi – aku meninggalkan studi, jarang keluar rumah, dan kesulitan dengan hal-hal dasar seperti kebersihan diri atau berbicara dengan orang. Di saat-saat seperti itu, salat terasa seperti gunung yang tak bisa kudaki, dan aku malu akan hal itu. Tapi jujur saja, imanku kepada Allah adalah satu-satunya hal yang membuatku bertahan di masa-masa terkelamku itu. Alhamdulillah, aku diberkahi keluarga penyayang, kestabilan finansial, dan rumah, dan aku tahu banyak orang menghadapi perjuangan yang lebih berat – yang kadang malah membuatku merasa lebih bersalah lagi. Sudah delapan tahun ini aku berusaha kembali ke jalur, tapi kesehatan mentalku terus jadi penghalang. Setiap kali aku rasa ada kemajuan, ujung-ujungnya aku balik ke titik awal lagi. Aku cuma ingin menjadi lebih baik. Semoga Allah mengampuniku untuk semua salat yang telah terlewat.