Menghadiri gereja sambil diam-diam Muslim – apakah aku sudah mengatasinya dengan benar?
Salaam semuanya. Perjalananku menuju Islam agak tidak biasa, dan aku bukan orang baru di sini (cuma pakai akun baru). InshaAllah suatu hari nanti aku akan cerita apa yang membuatku tertarik pada Islam dan kenapa aku menerimanya. Tapi untuk sekarang, masalahnya adalah keluargaku (selain saudara kandungku) menentang aku meninggalkan Kristen untuk jadi Muslim. Setelah satu pertengkaran besar, aku sadar aku harus menjalankan agamaku diam-diam sementara dipaksa pergi ke gereja bersama mereka setiap Minggu. Aku nggak bisa ambil risiko konflik lebih besar dengan terang-terangan menolak pergi dan menyatakan aku Muslim apapun yang terjadi. Jadi untuk saat ini, aku menjalankan agamaku secara rahasia sampai aku bisa hidup terbuka sebagai Muslim. Artinya, aku masih ikut ke gereja bersama mereka setiap minggu. Waktu di sana, aku nggak pernah ikut doa atau ibadah karena rasanya kayak syirik. Tapi komuni benar-benar bikin aku gelisah. (Kelihatannya begini: [link gambar]) Awalnya susah buat dihindari – wafernya masih bisa diatasi, tapi minumannya terasa lebih berat. Karena mereka menganggapnya melambangkan darah Yesus dan dikaitkan dengan penyembuhan dan perlindungan, rasanya kayak syirik meskipun aku nggak berniat begitu. Setelah beberapa minggu aku akhirnya nemu cara buat menghindari komuni. Sebelum ke gereja aku masukin tisu dan peniti ke saku. Selama kebaktian, aku pakai peniti buat melubangi gelasnya dan biarin cairannya meresap ke tisu di sakuku. Terus pas komuni, aku pegang gelasnya dengan cara yang nutupin kalo isinya kosong. Buat wafernya, aku pakai kelembaban dari telapak tanganku buat melunakkan jadi pas aku pecahin, potonganku melipat – jadi gampang pura-pura udah makan. Menghadapi semua itu udah satu hal, tapi belakangan beberapa orang yang aku kenal bilang kalau aku bukan Muslim beneran dan masih Kristen karena mereka lihat aku di gereja. Sekitar semingguan ada sindiran kalau aku cuma ikut-ikutan tren. Ini menjengkelkan karena sebanyak apapun penjelasan, nggak akan menghentikan tatapan skeptis, kayak aku bohong demi jaga muka. Gosip ini bikin kekhawatiran lebih besar: banyak orang sekarang tahu aku Muslim (meskipun ada yang anggap itu palsu). Aku takut kalau ada orang dari gereja yang bakal kasih tahu keluargaku kalau aku sebenernya nggak ikut berpartisipasi. Nggak butuh banyak usaha buat mereka cari tahu – akun online-ku mostly tentang Islam, aku punya buku catatan belajar deen dan sirah, tasbih DIY dari kalung mutiara lama, aku nggak pakai atau simpan perhiasan salib yang mereka kasih, dan aku punya Al-Qur'an di HP-ku. Kadang-kadang aku ingetin diri sendiri kalau sebagian Sahabat dulu menghadapi yang jauh lebih berat sambil beribadah diam-diam, jadi aku nggak boleh merasa berhak dapat ujian yang lebih ringan. Hari-hari lain aku bertanya-tanya apa yang bakal terjadi kalau satu orang aja bongkar semuanya. Aku beneran nggak mau ninggalin deen ini, meskipun mata pencarianku terancam. Jadi, haruskah aku cuekin aja apa kata orang lain dan fokus bangun kehidupan di mana aku bisa beribadah secara terbuka? Atau haruskah aku lakukan saran beberapa orang dan ikut serta di gereja biar kelihatan ‘bertaubat’ sampai aku bisa mandiri?