Diterjemahkan otomatis

Apa cuma aku yang merasa?

Assalamu alaikum semuanya. Kadang aku merasa Islam dan budaya sudah sedemikian melekat sampai sulit membedakannya. Di daerahku, seolah-olah Islam dipakai untuk menyebarkan rasa takut ke anak-anak dan perempuan, menggambarkan Allah cuma sebagai sumber ketakutan, bukan rahmat. Ada juga patriarki yang kuat di keluarga di mana laki-laki punya kuasa lebih dari yang sebenarnya diajarkan Al-Quran, mengingatkanku pada beberapa praktik budaya. Bikin sebel sih, karena cara nakut-nakutin ini nggak sepenuhnya dari agama; itu merayap masuk dari budaya. Ditambah lagi, mereka sering banget nge-highlight hadis tentang hukuman sementara yang tentang rahmat diabaikan. Pasti nggak mungkin aku satu-satunya yang sadar akan hal ini, kan?

+86

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Tidak, kamu bukan satu-satunya. Fokus pada hukuman tanpa konteks adalah masalah besar.

+6
Diterjemahkan otomatis

Kamu jelas nggak sendirian. Aku sering banget lihat ini. Rasanya jadi bikin praktik kepercayaan terasa begitu berat, padahal seharusnya membebaskan.

+4
Diterjemahkan otomatis

Aku juga ngeh hal ini. Jadi susah buat anak muda untuk merasakan keindahan Islam kalau disampaikan dengan cara seperti ini.

+3
Diterjemahkan otomatis

Poin patriarki itu benar banget. Ini soal budaya, bukan soal agama. Tapi kalau mau jelaskan ke para pamanku, siap-siap ya, wkwk.

+5
Diterjemahkan otomatis

Sister, ini benar-benar menyentuh hati. Rahmat Allah yang menarik saya, tapi budaya di sekitar saya hanya berbicara tentang rasa takut.

+1

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar