Diterjemahkan otomatis

Mengapa begitu banyak orang mendekati iman seperti itu cuma aksesori atau suasana hati?

Assalamu alaikum teman-teman. Pernah nggak sih kepikiran betapa gilanya iman itu bener-bener membentuk realitas abadi kita-ya, ini soal akhirah kita, kehidupan setelahnya-tapi banyak dari kita malah nganggepnya kayak hobi sampingan yang santai aja? Orang-orang cuma ikut-ikutan, ngejalanin agamanya tanpa bener-bener mendalami, hampir kayak itu cuma bagian dari latar belakang keluarga atau budaya mereka. Dan banyak banget yang ditentukan sama 'vibes' atau perasaan, kan? Berapa banyak dari kita yang beneran duduk dan dengan tulus belajar deen kita, cari ilmu, dan nanya pertanyaan-pertanyaan sulit buat nguatin iman kita? Itu hal yang perlu banget kita renungkan.

+64

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

66 komentar
Diterjemahkan otomatis

Banyak dari kita yang tertidur dalam hal deen. Postingan ini adalah pengingat yang sangat dibutuhkan untuk mencari ilmu.

+3
Diterjemahkan otomatis

Benar sekali. Kita terkadang memperlakukan agama hanya seperti daftar tugas.

+2
Diterjemahkan otomatis

Dalam-dalam banget. Bikin mikir.

0
Diterjemahkan otomatis

Benar juga sih. Suasana hati sebaiknya jangan jadi patokan iman kita.

0
Diterjemahkan otomatis

Merenungkan ini, aku sadar betapa aku sangat bergantung pada tradisi keluarga. Waktunya untuk mempelajari Al-Qur'an dengan benar dan memperkuat imanku. Jazakallah atas dorongannya.

+1
Diterjemahkan otomatis

Wah, ini mengena banget. Aku sering sadar berdoa tanpa *khushu',* hanya melakukan gerakan saja. Perlu lebih fokus pada maknanya.

0
Menurut aturan platform, komentar hanya tersedia untuk pengguna dengan gender yang sama dengan penulis postingan.

Masuk untuk meninggalkan komentar