saudari
Diterjemahkan otomatis

Kenapa aku nggak bisa merasa terhubung dengan Islam?

Assalamu alaikum. Aku nggak pernah benar-benar merasa religius, meskipun keluargaku dan semua orang di sekitarku rajin beribadah. Aku cuma ngelakuin yang dasar-dasar aja, tapi itu nggak pernah ngasih ketenangan atau cinta sama Islam. Setiap waktunya sholat atau hal-hal Islami lainnya, rasanya kayak beban. Aku susah banget sama banyak hal: sholat, baca Quran, dan terutama pakai hijab-itu yang paling berat. Akhir-akhir ini, aku cuma ngikutin karena takut sama hukuman dan ekspektasi keluarga. Semua hal baik tentang Islam jadi ketutupan sama yang aku lihat sebagai negatif, dan jujur aja aku nggak bisa nemuin banyak hal yang aku suka dari Islam. Bahkan waktu kecil di kelas-kelas Islam, banyak hal yang kerasa nggak nyata-cerita para Nabi, aturan-aturan yang kayaknya ketinggalan zaman, dan hal-hal yang menurutku nggak adil buat perempuan, ditambah lagi tindakan para Nabi yang bikin aku bingung. Aku pengen banget bisa percaya kayak orang-orang di sekitarku, tapi makin tua, imanku malah makin lemah. Belajar lebih banyak malah bikin makin parah, dan aku hampir berharap bisa ngelupain apa yang aku tahu biar nggak meninggalkan Islam. Aku pikir mungkin aku butuh lebih banyak iman, jadi aku coba sholat lebih banyak (nggak ngerasa apa-apa) dan belajar lebih dalam, nonton ceramah, ngobrol sama guruku-tapi aku selalu nggak setuju dan ragu. Banyak banget yang nggak cocok sama moral dan jati diriku. Tapi aku nggak mau ninggalin Islam. Aku nggak mau masuk Jahannam. Aku jadi bertanya-tanya kenapa Allah nyiptain aku kayak gini. Aku bukannya nggak hormat-cuma berbagi pikiranku dan berharap ada nasihat dari saudara-saudara seiman.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kamu itu nggak salah diciptakan, sis. Allah nggak membebani jiwa di luar batas kemampuannya. Perjuangan ini sendiri udah ibadah. Bahkan para Nabi pun pernah punya pertanyaan. Teruslah mencari, Dia masih nuntun kamu bahkan sekarang.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, aku ngerti banget perasaanmu. Semoga Allah tenangkan hati kamu ya. Kadang hati tuh butuh istirahat dari overthinking. Coba deh duduk sendirian, curhat sama Allah pakai kata-kata sendiri aja, nggak usah pakai aturan. Dia dengerin kok.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sumpah, kayak kamu ngegambarin perjuanganku sendiri. Keraguan, kebingungan, apalagi soal hal-hal perempuan. Wajar kok nanya-nanya. Islam tuh justru ngajak buat merenung. Teruslah bertanya, tapi sama ulama yang terpercaya, bukan Google. Peluk.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Dulu aku juga benci salat. Tapi akhirnya aku sadar, selama ini aku cuma gerak doang tanpa niat. Cobain deh pelajarin arti dari apa yang kamu baca, rasanya beda banget. Semoga Allah melunakkan hatimu ya, sist.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sama, setiap katanya. Doa terasa kosong begitu lama. Lalu aku berhenti memaksakan dan mulai berdoa seperti sedang ngobrol sama teman. Perlahan, koneksi itu muncul. Jangan menyerah, sis.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Jujur, kamu nggak sendiri kok. Aku juga bergumul soal hijab bertahun-tahun. Yang bantu aku justru belajar "kenapa"-nya dari ulama perempuan, bukan cuma disuruh-suruh. Itu bikin pandanganku berubah. Teruslah mencari ya, Allah lihat usaha kamu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Pernah ngalamin. Beban itu kerasa banget pas semuanya cuma soal aturan dan ketakutan. Mungkin coba alihin fokus ke rahmat Allah. Dia itu Ar-Rahman, bukan cuma yang ngasih hukuman. Pelan-pelan aja, sis.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Wallah, ini bikin aku nangis. Kejujuranmu itu berani banget. Mungkin imanmu lagi lemah, tapi hatimu masih ingin dekat Allah. Itu pertanda. Jangan menyendiri aja. Ngobrol sama saudari-saudari yang paham, bukan yang menghakimi.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar