Saat Kamu Berdiri untuk Shalat, Ingatlah Ini
Pernahkah kamu berhenti sejenak saat berdiri di atas sajadah, mengucapkan "Allahu Akbar," dan bertanya-tanya: di mana Allah saat ini? Mungkin pikiran itu tak pernah muncul, atau mungkin muncul tapi kamu tak berani bertanya. Tapi dulu sekali, seorang Sahabat menemukan jawabannya-dan itu begitu dahsyat hingga dia pingsan. Biar kuceritakan apa yang terjadi. Malam itu sunyi di Madinah, jalanan diterangi cahaya rembulan yang lembut. Lampu-lampu masih menyala di Masjid Nabawi. Rasulullah (damai besertanya) sedang duduk bersama para Sahabat. Abu Dharr al-Ghifari (semoga Allah meridhainya) datang dan duduk di dekatnya. Ada pertanyaan yang sudah lama membebani hatinya. Karena malu, dia tak pernah bertanya. Tapi hari itu dia tak bisa menahannya lagi. Pelan-pelan dia berkata, "Wahai Rasulullah, saat aku shalat, di mana Allah?" Masjid jadi hening total. Nabi (damai besertanya) menatapnya dengan lembut lalu menjawab pelan, "Allah menghadapkan Wajah-Nya kepada hamba-Nya selama dia tetap dalam shalat dan tidak berpaling" (Sunan an-Nasa’i, Hadits 1195). Abu Dharr mendengar itu. Sesaat berlalu. Lalu air mata mulai mengalir dari matanya. Kakinya gemetar. Di dalam, rasanya seperti ada yang hancur. Allah-Rabb segala sesuatu, yang tinggal berfirman "Jadilah" maka jadilah-menghadap ke arah orang sepertiku? Dan lagi... aku berdiri dalam shalat tapi membiarkan pikiranku melayang ke dunia ini? Bisnis, uang, kekhawatiran sehari-hari? Beban itu menghantamnya begitu keras sampai dia tak bisa tetap tegak. Dia roboh, tak sadarkan diri. Apakah Allah benar-benar sedekat itu? Cuma cerita? Nggak. Di Al-Qur’an, Allah berfirman: "Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" (Surah Qaf 50:16). Riwayat lain menyebutkan, "Ketika seorang hamba berdiri dalam shalat, Aku ada di depannya..." (dirujuk dalam Musnad Ahmad). Berhenti dan pikirkan. Baca lagi itu. Allah benar-benar ada di sana dalam shalatmu. Dia melihatmu. Dia memperhatikan bibirmu bergerak, air matamu jatuh. Dia mendengar jeritan yang kau sembunyikan di hatimu. Apakah kita benar-benar sadar dengan siapa kita bertemu saat shalat? Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya) menceritakan bahwa Nabi (damai besertanya) pernah bertanya, "Tahukah kalian dengan siapa seorang hamba bercakap-cakap saat shalat?" Semua terdiam. Beliau bersabda, "Dia sedang bercakap-cakap dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia perhatikan bagaimana dia berbicara" (Al-Mustadrak karya Al-Hakim). Coba pikirkan. Kalau kamu punya janji temu dengan seseorang yang penting, kamu pasti siap-siap: merapikan pakaian, merencanakan kata-kata, penuh perhatian. Tapi dengan Allah, pikiran kita malah melayang ke pasar, pekerjaan, urusan rumah. Abu Dharr nggak pingsan karena takut. Itu rasa malu. Dia sudah shalat seumur hidupnya tapi nggak pernah benar-benar memikirkan bahwa Allah menghadap kepadanya dalam shalat. Hatinya nggak sanggup menahannya. Dan kita? Kita dapat kesempatan ini lima kali sehari. Lima kali, Allah mengundang kita berdiri di hadapan-Nya. Tapi kita taruh dulu HP, buru-buru selesai, lalu balik lagi ke kehidupan-kepala kita masih penuh rencana dan angka-angka. Jadi mulai sekarang, biarkan shalatmu sedikit berbeda. Sebelum mulai, berhenti sejenak. Ingat bahwa Allah melihatmu, mendengar setiap kata yang kau ucapkan. Simpan itu saja di hatimu. Mungkin matamu akan basah. Mungkin nggak seperti Abu Dharr, tapi sesuatu di dalam mungkin akan bergejolak. Itulah iman. Itulah jiwa dari shalat. Nabi (damai besertanya) bersabda, "Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihatmu" (Sahih Muslim, Hadits Jibril). Bagikan ini ke istri, anak, saudara, atau temanmu. Mungkin mulai hari ini, shalatmu akan terasa lebih lama, sujudmu lebih dalam, doa-doamu lebih jujur. Dan Allah yang paling tahu.