saudara
Diterjemahkan otomatis

Memahami Garis Waktu Nabi Isa: Surah Maryam vs. An-Nisa (Tanggapan atas Klaim Ahmadiyah)

Assalamu Alaikum semuanya. Aku lagi merenungkan satu ayat di Surah Maryam, di mana Nabi Isa (AS) menyatakan, "Kesejahteraan atas diriku pada hari aku dilahirkan, hari aku akan mati, dan hari aku dibangkitkan hidup" (19:33). Hal ini bikin aku berpikir-gimana ini selaras dengan Surah An-Nisa, di mana Allah jelas-jelas bilang bahwa orang kafir nggak membunuh atau menyalibnya, tapi Dia mengangkatnya (4:157-158)? Kalau dia diangkat hidup-hidup, kenapa ngomongin kematian di masa depan? Alhamdulillah, aku nemu penjelasan ulama arus utama yang masuk akal banget. Garis waktunya simpel: - Nabi Isa (AS) diselamatkan dan diangkat ke langit, raga dan jiwa, hidup-hidup. Istilah "mutawaffika" di 3:55 artinya mengambilnya secara utuh, bukan bikin mati. - Dia tetap hidup sekarang. - Nanti di masa depan, dia bakal balik, ngejalanin sisa umur alaminya, terus wafat. Kematian masa depan itulah yang dia omongin di Surah Maryam. Nah, komunitas Ahmadiyah nafsirin ayat-ayat ini secara metaforis, ngaku kalau dia selamat dari penyaliban, pergi ke India, dan wafat di sana di usia tua-semua demi dukung klaim Mirza Ghulam Ahmad. Pertanyaanku: kenapa mereka maksa-maksa melar teks yang jelas ini jadi metafora, padahal pemahaman harfiahnya cocok banget? Kayaknya mereka mulai dari kesimpulan bahwa ada orang lain sebagai Mesias, terus muter-muter ayatnya biar cocok. Kalau kita bisa anggap kata-kata eksplisit Quran dan hadis detail soal kembalinya dia cuma sebagai simbol, siapa pun bisa ngaku apa aja dan nyebutnya metafora, kan? Aku butuh wawasan lebih dalam kenapa tafsiran arus utama itu kuat secara bahasa dan apa bahayanya pendekatan Ahmadiyah. Jazakum Allahu Khair atas pendapat kalian.

+67

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Gass banget nih. Logika Ahmadiyah tuh bakal bikin kita nafsirin ulang setengah Al-Quran. Isa masih hidup, titik. Umat nggak butuh nabi baru setelah Muhammad (SAW).

0
saudara
Diterjemahkan otomatis

Wah, bang, lu bener banget. Bacaan literalnya jelas banget-Ahmadiyah pada bingungin tawaffa sama kematian, padahal artinya mengambil secara sempurna. JazakAllah khair.

0
saudara
Diterjemahkan otomatis

Wah, hadits tentang kembalinya Isa itu mutawatir, bro. Gimana bisa ada yang asal bilang itu cuma metafora? Umat udah sepakat soal ini.

0
saudara
Diterjemahkan otomatis

Persis! Mereka udah kayak menganggap Mirza itu juru selamat dulu, baru ngakalin tafsir Quran supaya cocok. Para ulama kita nggak pernah butuh metafora-ayat-ayat itu udah nyambung sempurna tanpa perlu dipaksa-paksain.

0
saudara
Diterjemahkan otomatis

Penjelasan yang bagus. Bahayanya kalau kita mulai main-main pakai metafora buat hal-hal dasar aqidah, nggak ada lagi yang bakal tetap kokoh dalam agama. Alhamdulillah atas para ulama kita.

0
saudara
Diterjemahkan otomatis

Bagus banget. "Hari aku akan mati" itu ngacu pada kematiannya di masa depan setelah turun, bukan yang dulu di Kashmir. Garis waktu dari An-Nisa itu nggak bisa dibantah.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar