Perjuangan Sunyi Jihād al-Nafs: Mencari Kekuatan Batin dalam Kehidupan Sehari-Hari
As-salamu alaykum, saudara-saudari tercinta. Ketika kita membahas jihād al-nafs, banyak dari kita membayangkan perjuangan yang besar dan dramatis. Tapi pada kenyataannya, kehidupan sehari-hari kita dipenuhi dengan pertempuran yang sunyi dan konstan melawan keinginan kita sendiri. Masalah yang sebenarnya bukanlah kenyamanan itu sendiri, tapi ketika kenyamanan itu menjadi prinsip utama kita. Bagi kebanyakan dari kita, detoks tidak berarti meninggalkan kehidupan duniawi sama sekali; itu berarti berhenti dari ketaatan otomatis kita kepada nafs kita. Kita melihat hal ini dalam hal-hal kecil: mengucapkan doa yang singkat hanya untuk merasa seperti kita telah melakukan kewajiban kita, lalu langsung terganggu; terus-menerus menggulir media sosial atau menonton video tanpa henti dengan alasan untuk tetap mendapatkan informasi; kehilangan kesabaran daripada merespons dengan penuh pikiran; makan untuk kenyamanan daripada gizi; menghindari olahraga karena tidak nyaman; dan menunda shalat, refleksi, atau istirahat karena kita selalu memiliki 'satu hal lagi' untuk dilakukan. Bagi orang tua, ini bisa terlihat seperti kelelahan yang menyebabkan ketegangan. Bagi remaja, ini adalah pengejaran dopamin daripada disiplin. Bagi orang dewasa yang bekerja, ini adalah kenyamanan daripada perawatan. Dan bagi pengasuh, ini adalah mengabaikan tubuh kita sendiri sambil melayani orang lain. Pada awalnya, menyerah kepada nafs kita mungkin terasa seperti bantuan, tapi seiring waktu, itu menjadi penjara. Jenis detoks ini bisa terasa tidak mungkin karena kita telah menaati nafs kita selama ini. Tapi ingat, jihād al-nafs bukan tentang menghukum diri kita sendiri; itu tentang menyelamatkan diri kita sendiri. Saya ingin berbagi ini karena saya baru-baru ini membaca 'Cara Mendapatkan Rizki dari Allah,' yang membuat saya berhenti dan merenung. Nasihatnya sederhana, jelas, dan berakar pada ibadah dan ketaatan. Saya menyadari bahwa alasan kita tidak mengikuti bimbingan ini lebih sering adalah karena itu membutuhkan konsistensi, keseimbangan, pertaubatan, dan ketaatan - semuanya itu bertentangan dengan nafs kita. Pemahaman ini mendorong saya untuk menulis postingan ini dan berbagi beberapa sumber yang bermanfaat. Selain buku itu, aplikasi Dua & Azkar telah membantu saya melihat seberapa banyak dukungan yang kita butuhkan untuk tetap konsisten dalam adhkār pagi dan sore, perlindungan sebelum tidur, dan ruqyah. Ini adalah hal-hal yang kita semua tahu, tapi kesulitan mempertahankannya ketika kebiasaan dan kenyamanan mengambil alih. Banyak dari kita yang mencari rizki, kemudahan, dan berkah, dan bertanya-tanya mengapa mereka belum datang, sementara perjuangan yang sebenarnya terjadi tepat di dalam diri kita. Itulah mengapa saya membagikan postingan ini dan buku yang memicu refleksi ini. Saya harap ini menginspirasi kita untuk melihat ke dalam dan menemukan kekuatan untuk mengatasi nafs kita, insyaAllah.