saudari
Diterjemahkan otomatis

Kesulitan menghadapi kesombongan dan kekejaman adik perempuanku

Assalamualaikum, aku butuh saran. Adik perempuanku yang paling kecil dan aku beda 4 tahun. Waktu kecil, aku menganggapnya sahabat, tapi dia sering kayak cemburu sama prestasi sekolahku. Orang tuaku selalu memanjakannya, mungkin untuk menebus kesulitannya di sekolah. Jujur, aku rela tuker prestasi itu dengan cinta mereka-aku merasa harus mendapatkan pengakuan lewat nilai. Setelah dia masuk politeknik dan universitas, punya teman dekat (apalagi setelah ketemu suaminya lewat aplikasi, dan seorang teman jadi dokter-dia suka sebut itu ke ibu), dia jadi sombong dan kasar, terutama padaku. Kami udah 2 tahun nggak ngomong. Dia anggap aku kayak hantu. Waktu aku bawa makanan buat keluarga, dia nggak pernah bilang terima kasih, tapi ke kakak-kakakku yang lain, dia bilang dengan suara keras. Aku udah minta ibu bantu, tapi ibu bilang adikku terlalu egois dan keras kepala buat berubah, dan ibu takut bikin dia marah sampai ngamuk. Ayahku emosinya nggak ada dan sekarang lebih banyak di tempat tidur. Baru-baru ini, kami sekamar di rumah kakak tertua. Aku bayar lemari dinding buat penyimpanan. Aku baru pindah (untungnya, karena dia main game dan teleponan sama suaminya sampai larut ganggu tidurku) tapi ninggalin beberapa dus elektronik. Pas aku butuh dus buat garansi, aku tanya di chat keluarga karena aku lihat barangku hilang-lemari penuh sama barangnya, tanpa izin. Terus dia kirim komentar kasar, kayak: "Setidaknya aku nggak nganggur hampir setahun setelah lulus :)" (itu 10 tahun lalu, dan aku kerja paruh waktu sambil cari kerjaan tetap), "Setidaknya aku dapat kerja dalam 2 bulan, lucunya kamu, gajiku lebih tinggi" (dia dapat kerjaannya lewat referensi teman setelah dipecat). Dia juga bilang, "Udah 30 tahun tapi nggak tahu cara bersikap kayak umur segitu, dasar pecundang" (dia bahkan nggak ngasih selamat ulang tahun ke aku). Dan, "Hidupku jauh lebih baik tanpa ngomong sama kamu." Aku marah banget. Gimana caranya menghadapi orang kayak gini? Ibu diam-diam minta aku maafin dia. Di permukaan, hidupnya kelihatan sempurna: dia tunangan sama atlet nasional (yang seumuran aku dan penghasilannya lebih kecil-nggak yakin dia juga merendahkan dia), dan mertuanya seorang imam. Dia pura-pura alim di luar, tapi kami nggak lihat dia ngaji di rumah. Dia kasih sajadah buat souvenir pernikahan; ibu mau tambahin piring buat tamu agama lain, tapi dia bentak, "Ini pernikahanku, aku yang putuskan." Munafik banget-dia baik sama teman-teman dan sering traveling, tapi jahat banget sama keluarga. Orang tuaku biarin dia dan suaminya tinggal di flat mereka (yang biasanya disewakan untuk pemasukan) sampai rumah baru mereka siap dalam 3 tahun, sementara orang tuaku tetap tinggal sama kakak tertua, katanya mereka butuh privasi. Hidup udah susah jadi kambing hitam dengan dukungan minim. Aku susah tidur dan bahkan ambil cuti kerja karena pusing. Ada saran gimana caranya move on? JazakAllah khair.

+29

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sis, bacanya sakit banget. Jelas dia lagi insecure dan ngelampiasin ke kamu. Pasang batasan yang tegas dan berhenti cari validasi dari dia-fokus aja sama kenyamanan diri dan deen-mu sendiri. Semoga Allah lembutin hatinya.

+8

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar